Belajar Aqidah

Amar Makruf Nahi Mungkar Terhadap Pemimpin

Kitab Riyadush Shalihin

📝 Faidah Kajian
📆 Ahad, 29 Safar 1444 H / 25 September 2022
🕌 Masjid Darul Fityan SOR Ciateul Kab. Garut
🎙️ Pemateri: Ustaz Nuruddin Abu Faynan حفظه الله

📌 Lanjutan Kitab _Riyadush Shalihin_ tentang Amar Makruf Nahi Mungkar

📜 Prolog
Menuntut ilmu itu ibadah yang paling agung. Tidak ada sesuatu yang menandinginya jika niat kita ikhlas karena Allah Jalla wa ala.

📋 Isi:
Amar Makruf Nahi Mungkar itu merupakan fardu kifayah. Bahwasanya dalam Amar Makruf Nahi Mungkar ada Beberapa syarat yang perlu dipenuhi.
Berkenaan dengan bagaimana Amar Makruf Nahi Mungkar kepada kesalahan pemimpin, mungkin ada orang yang mengatakan karena para pemimpin tidak istikamah dalam beragama dan melakukan kemaksiatan berarti kita tidak boleh taat.
Bagaimana pandangan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah ﷺ. Kita sebagai seorang rakyat, bagaimana kewajiban kita kepada pemimpin dan begitu pula kewajiban pemimpin kepada rakyatnya.

👉 Dalam hadis yang mulia ini, Imam An Nawawi _rahimahullah_ memasukkannya ke dalam bab
Al Amru bil Makruf

عَنْ أَبِي الْوَلِيْدِ عُبَادَةَ بنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :
بَايَعْنَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ في الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لَّا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى فِيْهِ بُرْهَانٌ، وَعَلَى أَنْ نَقُوْلَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ .

Dari Abul walid, yaitu ‘Ubadah Ibn al-Shamit ra. berkata:
“Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar serta taat, baik dalam keadaan sulit atau pun mudah, juga dalam keadaan giat atau malas, juga dalam keadaan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dari pada kami. Selain itu pula supaya kita tidak merebut kekuasaan dari orang-orang yang berhak, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, berdasarkan dalil dari Allah. Dan agar kita semua berkata benar di mana saja kita berada, tidak takut untuk mengatakan hak itu akan celaan dari orang yang suka mencela.”

🔰Sabda Rasulullah ﷺ
” *Kami berbai’at kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar serta taat, baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, juga dalam keadaan giat atau malas*.”

Allah ﷻ berfirman:

{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan)di antara kamu.”

Yang dimaksud dengan pemimpin diantara kalian adalah pemimpin muslim. Pemimpin itu ada dua,
*1. Ulama*, adalah pemimpin dalam masalah ilmu.
*2. Umara’*,adalah pemerintah dalam pelaksanaan.

Para sahabat _ridwanullah alaihim ajma’in_ mereka berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat. kecuali jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan kepada Allah ﷻ. Maka tidak boleh seorang pun untuk berbaiat, mengikuti, mendengar dan taat apabila pemimpin memerintahkan kepada maksiat.

لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam mendurhakai Khalik yaitu sang Pencipta Allah ﷻ .

Jadi dikecualikan dari ketaatan kepada pemimpin itu apabila pemimpin memerintahkan kepada kemaksiatan.

Sahabat Abu Bakar semoga Allah meridai kepadanya, ketika menjadi pemimpin sebagai pengganti Rasulullah,
Abu Bakar katakan “Taatilah Aku selama aku mentaati Allah dan Rasul-Nya, jika aku berbuat maksiat kepada Allah maka tidak ada ketaatan kalian kepadaku, kalian tidak boleh mentaatiku.”

🌷Faidah yang di petik:

Sikap kita sebagai rakyat adalah untuk taat kepada pemimpin kita disetiap keadaan kecuali apa yang dikecualikan oleh Allah dan Rasul-Nya yaitu tatkala pemimpin memerintahkan kepada kemaksiatan.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda,

عليْكَ السَّمْعُ وَالطَّاعةُ في عُسْرِكَ ويُسْرِكَ، وَمنْشَطِكَ ومَكْرَهِكَ، وأَثَرَةٍ عَلَيْك
“Hendaklah engkau dengar dan taat kepada pemimpinmu baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah, baik dalam keadaan rela atau pun dalam keadaan tidak suka, dan saat ia lebih mengutamakan haknya daripada engkau.”

Sabda Nabi : *Juga dalam keadaan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dari pada kami*

Artinya walaupun keadaan pemimpin itu lebih mementingkan kepada diri mereka sendiri , bersenang-senang untuk diri mereka sendiri, mereka tidak peduli dengan kemiskinan kita.
Dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda,

تسمع وتطيع وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع
”Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka.”

Inilah prinsip akidah Ahlussunnah Wal Jamaah mendengar dan taat kepada pemimpinnya di antara kaum muslimin.

🌷Sikap kita kepada pemimpin adalah mendengar dan taat walaupun para pemimpin berbuat zalim kepada kita karena kewajiban seorang rakyat kepada pemimpinnya adalah untuk mendengar dan taat kecuali pemimpin memerintahkan kedurhakaan kepada Allah ﷻ.

🔰Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: *Selain itu pula supaya kita tidak merebut kekuasaan dari orang-orang yang berhak*

Artinya tidak akan mencabut atau mengambil dari ahli, karena mencabut kemimpinan dari ahlinya (dari penguasa) atau ketidaktaatan kepada penguasa, tidak mendengar dan taat kepada penguasa akan mengakibatkan keburukan yang banyak dan perpecahan antara kaum muslimin

🌷Pada zaman Utsman bin Affan tidaklah manusia itu rusak kecuali dikarenakan tidak taat kepada pemimpin, mengambil kekuasaan dari ahlinya atau keluar dari mendengar dan taat kepada pemimpin menyebabkan manusia itu menjadi rusak.

Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan kepada kita tentang bolehnya keluar dari pemimpin kalau terpenuhi empat syarat,

🔰Sabda nabi : *Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, berdasarkan dalil dari Allah*

1- Syarat pertama *Kalian melihat* yaitu apabila anda tahu yakin bukan hanya sekadar prasangka.
Namun apabila hanya sekadar prasangka tidak boleh keluar kepada pemimpin, tidak boleh mengadakan gencatan senjata, tidak boleh membicarakan atau demo.
2. Syarat kedua: *kekufuran* yaitu Kekufuran yang terlihat nampak jelas dan yakin bahwa itu adalah kekufuran bukan kedurhakaan.

3. Syarat ketiga : *Yang nyata* yaitu kekufuran yang nyata (zohir).

4. Syarat keempat: *berdasarkan dalil dari Allah* yaitu Memiliki dalil yang pasti.

🌷Empat syarat ini dalam rangka menjelaskan untuk menghormati para pemimpin, walaupun pemimpin itu zolim.

Intinya rakyat kepada pemimpin punya kewajiban, pemimpin kepada rakyat juga punya kewajiban.
Rakyat kepada pemimpin adalah mendengar dan taat, sedangkan kewajiban pemimpin kepada rakyatnya mesti bersikap adil kepada rakyatnya.
Kedua, pemimpin mesti bertakwa kepada Allah ﷻ .
Ketiga, kewajiban pemimpin kepada rakyatnya yaitu jangan memberatkan, menyusahkan kepada rakyatnya.
Keempat, kewajiban seorang pemimpin ketika memilih pimpinan untuk memilih yang layak untuk menjadi pemimpin karena kan kepemimpinan itu berbeda-beda, contohnya sebagai imam masjid maka mengangkat imam yang paling pintar dalam membaca kitab Allah, juga urusan-urusan yang lainnya.

🌷Ada orang yang bodoh. berkata “Kita tidak wajib untuk mentaati pemimpin kecuali apabila mereka Istikamah secara sempurna.” Ini perkataan salah, bukan dari syariat dan merupakan madzhabnya khawarij.

Diceritakan ada salah satu raja dari bani Umayyah, dia mendengar bahwasanya manusia selalu membicarakannya, kemudian raja dari bani Umayyah itu mengumpulkan semua pemimpin manusia semua pemimpin yang ada di bawah kepemimpinannya. Salah satu raja dari bani Umayyah lalu dia bertanya kepada kumpulan pemimpin-pemimpin dari manusia itu, “Sesungguhnya kalian itu menginginkan dari kami itu seperti Abu Bakar dan Umar?” lalu mereka menjawab “Iya Engkau khalifah dan mereka juga khalifah” kemudian kata salah satu raja dari bani Umayyah mengatakan *“Jadilah kamu seperti orang-orangnya Abu Bakar dan Umar, jadilah kami seperti Abu Bakar dan Umar.”*

Manusia sekarang sudah berubah secara otomatis pemimpinnya juga akan berubah, pemimpin cerminan yang dipimpin.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Nasihat yang baik yaitu dengan menulis surat kepada pemimpin, bukan dengan membawa banyak orang ke jalanan, itu bukan Amar Makruf Nahi Mungkar. Kalau memberikan nasihat tidak bermanfaat tetap saja pahala bagi kita, dosa kepada yang tidak menerima nasehat.

👉 Kemudian hadis berikutnya yang dibawakan oleh Imam An Nawawi dalam Bab Al Amru Bil Makruf Nahi Mungkar,

Dari Nu’man bin Basyir semoga Allah meridai kepadanya, dari Nabi ﷺ bersabda,

مَثَلُ القَائِمِ في حُدودِ اللَّه، والْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَومٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سفينةٍ، فصارَ بعضُهم أعلاهَا، وبعضُهم أسفلَها، وكانَ الذينَ في أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الماءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا في نَصيبِنا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَمَا أَرادُوا هَلكُوا جَمِيعًا، وإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِم نَجَوْا ونَجَوْا جَمِيعًا.

“Perumpamaan orang yang berdiri tegak -untuk menentang orang-orang yang melanggar- pada had-had Allah -yakni apa-apa yang dilarang olehNya- dan orang yang menjerumuskan diri di dalam had-had Allah -yakni senantiasa melanggar larangan-laranganNya- adalah sebagai perumpamaan sesuatu kaum yang berserikat -yakni bersama-sama- ada dalam sebuah kapal, maka yang sebagian dari mereka itu ada di bagian atas kapal, sedang sebagian lainnya ada di bagian bawah kapal. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal itu apabila hendak mengambil air, tentu saja melalui orang-orang yang ada di atasnya -maksudnya naik keatas dan oleh sebab hal itu dianggap sukar-, maka mereka berkata: “Bagaimanakah andaikata kita membuat lobang saja di bagian bawah kita ini, suatu lobang itu tentunya tidak mengganggu orang yang ada di atas kita.” Maka jika sekiranya orang yang bagian atas itu membiarkan saja orang yang bagian bawah menurut kehendaknya, tentulah seluruh isi kapal akan binasa. Tetapi jikalau orang bagian atas itu mengambil tangan orang yang bagian bawah -melarang mereka dengan kekerasan- tentulah mereka selamat dan selamat pulalah seluruh penumpang kapal itu.” (Riwayat Al-Bukhari)

🌷Ini merupakan perumpamaan yang diumpamakan oleh Nabi ﷺ yang memiliki arti yang tinggi.

Jadi manusia yang yang berada dalam agama Allah ﷻ
seperti diumpamakan orang yang ada di perahu diombang-ambing oleh ombak, sebagian mereka ada yang di bawah, ada yang di atas agar untuk menyeimbangkan perahunya.

Semoga Bermanfaat. Baarakallahufiikum.

© Created by Marhaban TV

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button