Belajar Aqidah

AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Ustaz Nuruddin Abu Faynan Hafizahullah

📝 Faidah Kajian
📆 Ahad, 15 Safar 1444 H
🕌 Masjid Darul Fityan SOR Ciateul Kab. Garut
🎙️ Pemateri: Ustaz Nuruddin Abu Faynan حفظه الله

📌 Lanjutan Kitab Riyadush Shalihin Bab 23 : AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR Bag 1

Tema : Hukum Amar Makruf Nahi Mungkar & Syarat-syaratnya

📜 Prolog:
Kebahagiaan ada pada ketaatan kepada Allah.

📋 Isi
Pengertian Makruf dan Mungkar, menurut Syekh Utsaimin rahimahullah:
1. Makruf: Segala apa yang dikenal oleh syariat dan ditetapkan dari ibadah-ibadah berupa perbuatan dan perkataan, yang nampak atau yang tersembunyi.
2. Mungkar: Segala apa yang diingkari oleh syariat dan dilarang oleh syariat dari berbagai kemaksiatan seperti, dusta, ghibah, mengadu domba, dan lain-lain.

Hukum Amar Makruf Nahi Mungkar adalah Fardu Kifayah, jika sebagian kaum muslimin yang cukup telah melakukannya, maka tertunaikanlah maksudnya, jika belum ada yang melaksanakannya maka wajiblah bagi setiap muslim.
Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
[Surah Ali Imran: 104]

Dakwah dimulai dengan menunjukan kepada kebaikan kemudian amar makruf dan nahi mungkar, selanjutnya adalah At-Taghyir, artinya mengubah.

Syekh Utsaimin menjelaskan tentang syarat-syarat ketika seseorang ber amar makruf nahi mungkar, diantaranya:
1. Mengetahui mana yang Makruf dan Mungkar. Karena jika tidak berilmu bisa jadi ia melarang suatu perkara padahal itu adalah makruf, sehingga perkara yang makruf tersebut ditinggalkan disebabkan olehnya.

2. Mengetahui dengan yakin bahwa seseorang itu meninggalkan kebaikan atau melakukan kemungkaran, jangan dengan prasangka atau tuduhan.
Allah ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَلَا تَجَسَّسُوا .

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.
[Surat Al-Hujurat: 12]

Dalam salah satu riwayat, Nabi shalallahu alayhi wa sallam bertanya terlebih dahulu sebelum memberikan perintah.

Kemudian ketika memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran harus dengan lemah lembut.

عن عائشة -رضي الله عنها- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه»

Dari Aisyah -raḍiyallāhu ‘anha- secara marfū’, “Sesungguhnya kelembutan jika ada pada sesuatu, maka akan menghiasinya. Dan jika ia dicabut dari sesuatu, maka itu akan membuatnya rusak.” Sahih HR. Muslim.

3. Kemungkaran yang dihilangkan itu tidak menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya.
Misalnya, melarang kemungkaran, namun setelah melarangnya malah muncul kemungkaran yang lebih besar.
Syekh Ibnu taimiyyah Rahimahullah pernah melewati sekumpulan orang tartar di Syam yang sedang meminum khamr, kemudian beliau rahimahullah tidak mencegahnya, maka sahabatnya yang sedang bersama beliau bertanya, mengapa beliau tidak mencegahnya, maka syekh rahimahullah menjawab, jika melarang mereka maka mereka akan pergi merendahkan harga diri kaum muslimin dan merampas harta benda mereka.

Kemudian selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ.
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.
[Surat Ali ‘Imran: 105].

Bahwasanya meninggalkan Amar Makruf Nahi Mungkar merupakan penyebab perpecahan. Umat tidak akan bersatu tanpa Amar Makruf Nahi Mungkar.

Kemudian banyak diantara beberapa negara mereka memperkuat dan memperkokoh keamanan negara dengan bantuan bala tentara, polisi dan lain-lain untuk menghindari perpecahan serta menjaga keamanan, padahal keamanan yang sebenarnya terdapat dalam firman Allah _Azza wa Jalla, _
{ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ }.
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.
[Surat Al-An’am: 82].

Keamanan yang sempurna ada pada kalimat ini, yaitu firman Allah di atas, apabila merealisasikan keimanan dan tidak mencampur adukkan dengan kedzoliman (syirik) maka akan mendapatkan keamanan.

✍🏻 Kesimpulan:
1. Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar Hukumnya Fardu Kifayah.
2. Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar ada syarat-syaratnya, antara lain; Harus mengetahui ilmunya, mengetahui dengan yakin bahwa seseorang itu meninggalkan kebaikan atau melakukan kemungkaran, melihat kondisi tatkala ber Amar Makruf Nahi Mungkar.
3. Ketika melarang atau mencegah kemungkaran dianjurkan dengan kelembutan sesuai dengan Hadis dari Aisyah radiyallahu ‘anha.
4. Meninggalkan Amar Makruf Nahi Mungkar merupakan penyebab perpecahan umat.

📱Ikuti Akun Sosial Media dan Grup Broadcast Marhaban TV
⬇️Klik link berikut⬇️
https://joy.link/marhabantvgarut

MARHABAN TV
Marahmay, Hade, Bageur, Nyunnah

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button