Belajar Aqidah

TAUHID BAGI PEMULA

Bagian 1

Tauhid merupakan ilmu yang wajib dipelajari, maka selayaknya seorang muslim mesti mengetahui masalah ini (tauhid) dan kebalikan dari tauhid (syirik). Buku yang dibawakan ialah (التوحيد تيسير) yang di tulis Syekhoh binti Muhammad Alqosim, ditaqdim dan dimurojaah oleh fadhilatus Syekh Al Alamah Abdullah bin Abdurrohman bin Jibrin rahimahullah.

  1. Keutamaan Menuntut Ilmu dan Sebab-sebab Yang Membantu Dalam Menuntut Ilmu

Sebagian ulama salaf berkata:

من لم يعرف ثواب الأعمال ثقلت عليه في جميع الأحوال

Barangsiapa yang tidak mengetahui pahala amalan akan berat kepadanya dalam semua keadaan.[1]

Kalau kita mengetahui pahala yang begitu besar dalam menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu maka akan terasa mudah, karena tahu pahala yang besar dan keutamaan yang sangat besar bagi para penuntut ilmu. Di dalam alquran dijelaskan, tentang terangkatnya derajat ahlul ilmu dan ahlul iman secara khusus. Bahwasanya orang berilmu dan orang beriman akan diangkat derajatnya.

يرفع الله الذين آمنو منكم والذين أوتوا العلم درجات

Allah ﷻ mengangkat orang-orang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu derajat (tingkatan)[2]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang penafsiran ayat ini, bahwasanya seorang mukmin yang alim, Allah akan angkat derajatnya daripada seorang mukmin yang tidak alim dan tidak berilmu. Dan pengangkatan derajat ini[3] menunjukkan keutamaan, karena yang dimaksud dengan keutamaan itu adalah banyaknya pahala yang dengan sebab banyaknya pahala terangkatnya kedudukan, terangkatnya derajat. Terangkatnya derajat itu meliputi terangkatnya secara maknawi di dunia dan kedudukan di surga.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah di dalam Syarh Riyadush Shalihin memberikan penjelasan bahwasanya Allah tidak menentukan derajat, tidak menentukan tingkatan-tingkatan itu. Karena tingkatan-tingkatan ini sesuai apa yang ada pada manusia dari keimanan dan ilmu. Disaat kuat keimanan, disaat banyak ilmu dan kemanfaatan untuk dirinya dan juga untuk yang lain, akan tambah banyak derajatnya, tambah tinggi derajatnya.

Penuntut ilmu itu berdasarkan firman Allah , terangkat derajatnya begitu pula Allah di dalam ayat yang lain, bagi orang yang diberi ilmu sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Allah mengkabarkan kepada siapa saja yang diberikan kepadanya ilmu, bahwasanya sungguh dia telah mendapatkan kebaikan yang  banyak.

يؤتي الحكمة من يّشآء ومن يّؤت الحكمة فقد أوتي خيرا كثيرا….

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. [4]

Imam malik berkata yang dimaksud الحكمة adalah pemahaman dalam agama Allah .  dijelaskan di dalam sunnah Nabi ﷺ tentang keutamaan menuntut ilmu dan memahami agama,

من يرد الله به خيرا يفقه في الدين

Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pasti Allah pahamkan di dalam agama.[5]

Di dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ bersabda,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.[6]

Kata Ibnu Rojab, menempuh jalan untuk menuntut ilmu masuk di dalamnya adalah suluquttariq al haqiqi, menempuh jalan secara hakiki yaitu berjalan dengan jalan kaki ke majelis-majelis para ulama. Secara maknawi yaitu yang mengakibatkan dapat ilmu yang mengantarkan untuk meraih dan menghasilkan ilmu, seperti menghafal, mempelajari, menulis, dan memahaminya. Dan seperti itu dari jalan-jalan yang menyampaikan kepada ilmu.

سهل الله له طريقا إلى الجنة

Pasti Allah akan memudahkan padanya jalan ke surga.

Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan yang di cari adalah ilmu, Allah akan mudahkan jalan ke surga. Yang dimaksud ialah Allah akan memudahkan penuntut ilmu apabila tujuan dalam menuntut ilmu itu wajah Allah dan manfaat kepada dirinya serta mengamalkan dari konsekuensi ilmu yang dipelajari. Maka dengan sebab ilmu untuk mendapatkan hidayah dan masuk surga dengan sebab itu. Dan yang dimaksud dengan pasti Allah akan mudahan baginya jalan ke surga ialah Allah akan memudahkan kepada ilmu yang dicarinya, karena sesungguhnya ilmu adalah jalan yang menyampaikan kepada surga, dan kadang kala Allah akan memudahkan bagi para penuntut ilmu, ilmu-ilmu lain yang dia mendapatkan manfaat ilmu-ilmu itu, jadilah ilmu-ilmu itu akan menyampaikan kepadanya ke surga. Dari Anas bin Malik radiyallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

من عمل بما يعلم ورثه الله تعالى علم ما لم يعلم

        Barangsiapa yang beramal dengan apa yang dia ketahui, Allah akan wariskan kepadanya ilmu yang tiudak dia ketahui.[7],[8]

Oleh karena itu dikatakan para ulama pahala kebaikan adalah kebaikan yang datang setelahnya, dan kadang yang dimaksud dalam hal itu juga kata ulama adalah memudahkan jalan ke surga secara hissi, yaitu kemudahan melewati sirat[9], sebelum sirat dan apa yang setelahnya. Maka tidak ada jalan untuk mengenal Allah , menggapai keridaan Allah kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Rasulullah ﷺ bersabda,

إن الملائكة لتضع أجنيتها لطالب العلم رضا بما يصنع

        Sesungguhnya malaikat betul-betul meletakkan sayapnya kepada penuntut ilmu, apa yang dibuat.[10]

Kata Ibnu Qoyyim malaikat meletakan sayapnya itu karena ketawaduannya, penghormatan malaikat kepada para penuntut ilmu dan kepada yang membawa warisan nabi, menunjukkan malaikat mengagungkan penuntut ilmu, mencintai penuntut ilmu, maka diantara tanda kecintaan malaikat kepada penuntut ilmu meletakkan sayapnya. Karena penuntut ilmu mencari apa yang menyebabkan keselamatannya. Diantara dalil yang menunjukkan tentang keutamaan penuntut ilmu masih dalam hadis yang panjang

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة و إن الملائكة لتضع أجنحتها رضا لطالب العلم, وإن العالم ليستغفر له من في السماوات ومن في الأرض, حتى الحيتان في الماء

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan bahwa para malaikat membentangkan sayapnya untuk menyenangkan para pencari ilmu, dan agar para alim meminta pengampunan baginya dari yang di langit dan di bumi. Sampai,… [11]

Dikatakan oleh para ulama sebab memintakan ampun kepada yang ada di langit dan di bumi yaitu untuk orang berilmu yang mengajarkan makhluknya, mengajarkan manusia, untuk memperhatikan hewan serta mengajarkan kepada manusia kepada yang halal dan apa yang haram, maka pantaslah kalau seandainya hewan itu memintakan ampun kepada orang yang berilmu. Dari Abi Darda’ Radiyallahu’anhu Rasulullah ﷺ bersabda,

فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب

Keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.[12]

Maka di dalam hadis ini menjelaskan tentang keutamaan orang yang berimu di bandingkan ahli ibadah seperti diserupakan bulan keutamaan dibandingkan semua bintang karena bulan itu bisa menyinari semua alam. Dan ini seperti kondisinya orang yang berilmu, ada pun bintang cahayanya hanya kepada yang dekat dari pada bintang itu, ini seperti kondisinya orang yang ahli ibadah yang bisa menyinari (cahaya ibadah) kepadanya tanpa yang lainnya.

Ada diantara perkataan ulama salaf tentang masalah motivasi kita untuk belajar dan menyebarkan ilmu, perkataan ulama salaf yang memberikan motivasi dan rangsangan bagi kita untuk bersungguh­­­­­­­­­ di dalam menuntut ilmu diantaranya adalah perkataan Muaz bin Jabal radiyallahhu anhu,

تعلموا العلم فإن تعليمه لله خشية وطلبه عبادة، ومذاكرته تسبيح والبحث عنه جهاد، وتعليمه لمن لا يعلمه صدقة

Pelajarilah ilmu, karena menuntut ilmu yang berdasarkan karena Allah itu akan menimbulkan rasa takut kepada Allah. Mencari ilmu merupakan ibadah, Mengingat-ingatnya adalah sama dengan bertasbih, mengkajinya merupakan suatu jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu merupakan suatu sedekah[13]

Al Imam Ibnu Mubarak berkata,

لا شيء بعد النبوة أفضل  من نشر العلم

Tidak ada sesuatu yang aku ketahui yang lebih utama setelah kenabian daripada ilmu.[14]

Sebagian ulama yang lain memberikan  penjelasan kepada kita agar kita semangat dan tekad kuat untuk menuntut ilmu. Imam Al Baghawi berkata bahwasanya ilmu itu lebih utama daripada ibadah karena ilmu itu bisa memberikan manfaat kepada semua manusia, karena bisa membuat agama itu menjadi hidup dengan sebab ilmu.

 

[1] Abu Abdillah Al Baratsi Rahimahullah

[2] QS Al Mujadallah : 11

[3] Perkataan Ibnu Hajar

[4] QS. Al Baqarah : 269

[5] Hadis dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu. Muttafaqun Alaihi

[6] HR. Muslim No. 2699

[7] Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Abu Nu’aim al Ashbahani dalam kitab Hilyatul Auliya dari jalur Imam Ahmad bin Hambal, dari Yazid bin Harun dari Humaid ath Thawil dari Anas bin Malik

[8] Syekh Al Albani mengatakan di kitab silsilah hadis dhoif bahwa hadis ini dhoif jiddan

[9] Sirat dalam KBBI yaitu jembatan

[10] HR. Muslim

[11] HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi.

[12] Dikeluarkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Hibban.

[13] Kalam hikmah Muaz bin Jabal, riwayat dari Raja’ bin Haiwah

[14] Hadis Hibban bin Musa

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button