Belajar Aqidah

Resume Kajian: Kajian Aqidah Untuk Pemula (Bagian 8)

Kitab Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi رحمه الله

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 

  Resume Kajian

 

🔊  :  Ustadz Nuruddin M Fattah Al-Makky حفظه الله    

📍    :  Kajian Online

📆  :  Ahad, 10 Ramadhan 1441 H/03 Mei 2020 M

📕  :  Kitab Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi رحمه الله

📜 :  Kajian Aqidah Untuk Pemula

📝 :  Bagian ke-8

                                               

📌 Tingkatan yang kedua dalam agama Islam adalah Iman      

                                                

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih cabang. Cabang yang paling utama adalah perkataan ‘laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.”

                                                       

🔖 Iman itu memiliki cabang

Ada yang nampak dan ada yang tersembunyi

 

🍁 Cabang yang paling utama adalah kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah`

Kalimat laa ilaaha illallah adalah pangkal seluruh agama. Bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dengan dua kalimat  syahadat yaitu laa ilaaha illallah dan Muhammad rasullullah adalah satu pokok dan satu bangunan yang merupakan tingkatan yang paling tinggi.

 

🍁 Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan

Hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu adalah perkataan dan perbuatan. Ini adalah madzhab ahlus sunnah wal jama’ah.

                                    

📌 Rukun iman

 

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

 

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun takdir yang buruk.”

                                                  

Mengetahui dan meyakini enam rukun Iman secara global adalah fardu ‘ain (kewajiban bagi setiap muslim) dan meyakini enam rukun secara terperinci adalah fardu kifayah (kewajiban ini gugur bagi sebagian muslim, bila telah dikerjakan oleh sebagian muslim lainnya).

 

🔖 Macam-Macam Rukun Iman

                                               

1️. Iman kepada Allah

Yaitu iman akan keberadaan Allah, iman kepada rububiyyah Allah, iman kepada uluhiyyah Allah, dan iman kepada nama-nama serta sifat-sifat Allah.

                                             

2️. Iman kepada Malaikat

Yaitu iman kepada segala yang dikabarkan oleh Alah dan Rasul-Nya tentang malaikat dari mulai nama-nama malaikat, sifat-sifat malaikat, dan pekerjaan-pekerjaan malaikat. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang pekerjaan para malaikat diantaranya menyampaikan wahyu kepada para utusan Allah, malaikat pencabut nyawa dll.

                                                        

3️. Iman kepada Kitab

Yaitu iman kepada segala yang Allah turunkan dari kitab-kitab yang kita ketahui dan kitab-kitab yang kita tidak ketahui.  Kita telah mengetahui di antara kitab-kitab yang Allah turunkan itu adalah taurat, injil, zabur, dan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah seutama-utama kitab dan yang membenarkan apa yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya dan menghapus apa yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya.

                                                  

4️. Iman kepada Rasulullah (para utusan Allah)

Yaitu iman secara global kepada semua utusan Allah yang dikisahkan kepada kita dan yang tidak dikisahkan kepada kita. Dan iman kepada utusan Allah yang dikisahkan kepada kita bersifat terperinci karena Allah menjelaskan mengenai kabar-kabar mereka.

 

5️. Iman kepada Hari Akhir atau Hari Kiamat

Yaitu iman kepada segala hal yang terjadi atau ada setelah kematian, yaitu berupa siksa kubur, nikmat kubur, kebangkitan, hisab, dan timbangan, kemudian surga dan neraka.

 

6️. Iman kepada Takdir

Yaitu iman kepada ketentuan-ketentuan Allah terhadap makhluk-Nya dan Allah telah menulis segala apa yang terjadi.                       

 

🔖 Empat Tingkatan Iman kepada Takdir

Seseorang bisa dikatakan beriman kepada takdir sampai dia beriman kepada semua tingkatan takdir ini.

Iman dengan Ilmu Allah

Iman kepada semua ilmu Allah, diantaranya ilmu Allah dengan perbuatan hamba-Nya, ketaatan para hamba-Nya, dan kedurhakaan para hamba-Nya.

Iman dengan catatan hamba-Nya

Iman dengan keumuman dan kehendak Allah

Iman bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu                                         

                                                  

 📌 Dalil Iman terhadap Enam Rukun Iman

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur & barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

                                         

📌 Dalil Iman kepada Takdir

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,                                                  

 إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir-takdir.” (QS. Al-Qamar [54]: 49)

                                                                  

📌 Tingkatan yang ketiga dalam agama Islam adalah Ihsan

 

🔖 Pengertian Ihsan

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril :

 

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ »

 

“’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

 

🔖 Ihsan merupakan tingkatan yang tertinggi dari tingkatan agama

 

Ihsan meliputi Islam dan Iman, oleh karena itu ulama mengatakan, “Setiap mukmin itu muslim dan tidak sebaliknya.”

 

Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk ihsan dan Allah subhanahu wa ta’ala menyanjung kepada orang yang ihsan dalam kitab-Nya.

 

🔖 Dua macam Ihsan: 

1.       Ihsan kepada makhluk

Yaitu ihsan dengan segala kebaikan.

2.       Ihsan dalam amalan dan perbuatan

Yaitu menyempurnakan amalan sesempurna mungkin.

 

🔖 Hakikat Ihsan

Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika tidak melihatnya maka Allah melihatnya.

 

Ada 2 kedudukan Ihsan adalah menyaksikan Allah dalam beribadah, dia beribadah seolah-olah melihat Allah dengan penuh rasa takut harap, menghadap, tunduk, menghinakan diri kepada Rabbnya. Barang siapa ada dalam kondisi demikian pasti akan fokus di dalam beribadah. Dan yang kedua jika tidak menyaksikan Allah dalam beribadah maka ia mengetahui bahwa Allah melihatnya dan mengawasinya

 

Maka selayaknya kita menghadirkan pengawasan Allah, maka dengan menghadirkan dan menyaksikan Allah saat kita beribadah akan menyebabkan kesempurnaan dalam beribadah.

 

🔖 Dalil-dalil tentang Ihsan

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

 إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang muhsin.” (QS. An-Nahl [16]: 128)

                                            

Kebersamaan disini adalah Allah menjaga, Allah memenangkan, dan Allah menguatkan orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang muhsin (orang-orang yang ihsan).

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

 وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 

“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 217-220)

                                                      

Sandarkanlah hati anda dan pasrahkanlah semua urusan kepada Allah Yang Maha Melihat, ketika berdiri dalam beribadah, ketika sujud, dan bersama orang yang sujud, hendaklah bertawakal kepada-Nya pasti Allah akan mencukupi.

                                                      

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

 وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

 

“Tidaklah kamu berada dalam suatu keadaan & tidak pula membaca suatu ayat dari Al-Qur’an & tidak pula kamu mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami melihatmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus [10]: 61)

 

Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita tentang kedudukan ihsan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala melihat hamba-Nya dalam segala urusan dan dalam segala kondisi. Allah hadir mendengar ucapan hamba, melihat tempatnya hamba, mengetahui rahasia hamba yang terang-terangan, dll.

 

Tatkala seorang hamba menghadirkan ihsan ini pada dirinya, maka menjadi salah satu sebab menghadapnya seorang hamba kepada Rabnya, kejujurnya hamba dalam beribadah, dan sempurnanya seorang hamba dalam beribadah; namun tatkala lalai dari ihsan akan mengakibatkan malas untuk beribadah.

                                                             

Seorang mukmin itu adalah orang yang beriman bahwasanya Allah melihatnya, akan tetapi perlu dibedakan antara iman dan ihsan (menghadirkan rasa bahwa Allah selalu mengawasinya), kebanyakan manusia tidak menghadirkan ihsan padahal ihsan merupakan kedudukan yang sangat Agung, kedudukan Ihsan ini bisa direalisasikan oleh orang yang sempurna dari kalangan orang-orang yang beriman.

 

KESIMPULAN

 

Pengertian Iman

Iman adalah Anda beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya kepada hari Kiamat, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

 

Pengertian Ihsan

Ihsan adalah Anda beribadah kepada Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, jika Anda tidak melihatnya, sesungguhnya Dia melihat Anda.

 

____

Semoga Allah menolong kita untuk bisa memiliki tingkatan tertinggi yaitu ihsan aamiin

 

 

🌸 Muslimah Ibnul Qayyim 🌸

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button