Belajar Aqidah

Resume Kajian: Kajian Aqidah Untuk Pemula (Bagian 6)

Kitab Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi رحمه الله

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 

 Resume Kajian

 

🔊Ustadz Nuruddin M Fattah Al-Makky حفظه الله    

📍  :  Kajian Online

📆:  Rabu, 6 Ramadhan 1441 H/ 29 April 2020 M

📕Kitab Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi رحمه الله

📜: Kajian Aqidah Untuk Pemula

📝: Bagian ke-6

 

📌 Landasan Pertama

Mengenal Allah subhanahu wa ta’ala

 

Arti Rabb adalah المعبود (Al-Ma’bud: yang diibadahi).

 

Cara hamba mengenal Rabbnya dengan cara Allah tabaraka wa ta’ala mengenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya

  1. Pengenalan dengan akal (dalil aqli) yaitu banyak merenung/mentadabburi tanda-tanda alam (ayat-ayat kauniyah/ciptaan-ciptaan Allah)
  2. Pengenalan dengan wahyu (dalil naqli), berupa ayat-ayat syariat. Wahyu yang dibawa oleh para urusan Allah, berupa kitab-kitab dan termasuk Al-Qur’an.

 

Kita hanya harus beribadah kepada Allah saja, karena Allah-lah yang menciptakan kita dan yang mengurus kita.

 

📌 Macam-Macam Ibadah

 

1️. Doa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

 

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

 

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Al-Mu’min/Ghafir [40] : 60)

 

🔖 Para ulama membagi doa menjadi dua bagian:

Ibadah masalah, yaitu permintaan seorang hamba kepada Allah secara langsung. Contohnya “Ya Allah, ampunilah aku.” Itu adalah doa permintaan.

 

Doa ibadah, yaitu semua ibadah yang kita lakukan adalah doa, misalnya shalat, dzikir, haji, dan lain-lain.

 

Doa dinamai ibadah karena seorang hamba dengan sebab doa yang dia lakukan mengharap pahala dan semua jenis doa hanya harus untuk Allah ta’ala saja.

 

2️. Al-Khauf (Rasa takut)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

فَلَا تَخْشَوُا ال‍‍نَّ‍‍اسَ وَاخْشَوْنِ

 

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (Al-Ma’idah [5] : 44)

 

Takut kepada Allah merupakan kondisi hati yang paling mulia, karena dengan rasa takut mencegah seseorang dari maksiat atau berbuat durhaka kepada Allah.

 

Al-Khauf (rasa takut) memiliki makna yang berdekatan dengan Al-Khasyah dan Ar-Rabhah

 

🔖 Rasa takut kepada makhluk ada beberapa macam

Termasuk syirik

Contohnya takut kepada berhala, takut kepada orang yang mati, dan meyakini bahwasannya orang yang mati dapat memberikan manfaat dan memberikan mudharat.

 

Termasuk kedurhakaan/kemaksiatan

Contohnya duduk dari berjihad (tidak ikut berjihad) karena takut kepada musuh dan takut untuk ‘amar ma’ruf nahyi munkar (memerintah kebenaran dan melarang kemunkaran) karena takut kepada manusia.

 

Adapun takut kepada Corona, itu adalah takut yang tabi’i (tabiat, bukanlah jenis takut ibadah dan tidak menafikan keimanan), takut semacam ini seperti takutnya kita kepada singa, binatang buas, atau hal lain yang yang memudharatkan. Ini adalah rasa takut yang dibolehkan dan tidak tercela.

 

3️. Ar-Raja’ (Rasa harap)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

فَمَ‍‍نْ كَ‍‍انَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ

 

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi/18 : 110)

 

Allah telah menggabungkan rasa harap (raja’) dan rasa takut (khauf) di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

 

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’ [21] : 90)

 

Raja’ adalah berharap kepada yang diinginkan dan Khauf adalah berhati-hati atau takut dari yang ditakuti, takut kepada Allah, takut dari siksa-Nya.

 

4️. Tawakkal (pasrah)

Tawakkal adalah memasrahkan ibadah hanya kepada Allah.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُ‍‍‍‍نْتُ‍‍‍‍مْ مُّ‍‍ؤْمِنِينَ

 

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah [5] : 23)

 

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَمَ‍‍نْ يَّ‍‍تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

 

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 3)

 

🔖 Allah menyanjung orang yang beriman dan bertawakkal kepada-Nya

 

Sifat orang yang beriman apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka akan bertambah keimanan mereka dan kepada Rabb-Nya mereka bertawakkal.

 

Demikianlah yang mesti kita lakukan, berpasrah kepada Allah dan tidak pasrah kepada selain Allah jalla jalaluh.

 

5. Inabah (taubat atau kembali kepada Allah)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ

 

“Kembalilah kepada Rabb-mu.” (QS. Al-Fajr [89] : 28)

 

Inabah yaitu kembali kepada Allah dalam segala urusan, menghadap kepada Allah untuk beribadah dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.

 

6. Isti’aanah (minta tolong)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah : 5)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan sabdanya:

 

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

 

‘Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.”. (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

 

7. Isti’adzah (meminta perlindungan dan penjagaan dari gangguan syaitan)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

 

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh.” (QS. Al-Falaq [113] : 1)

 

8. Istighatsah (minta pertolongan disaat genting)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

 

“Jika engkau beristighatsah kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan mengabulkan bagimu.” (QS. Al-Anfal [8] : 9)

 

9. Menyembelih

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

 

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al-An’am [6] : 162-163)

 

Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lainnya:

 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan menyembelihlah.” (QS. Al-Kautsar [108] : 2)

 

Dalam suatu hadits, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku: “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

 

Penyembelihan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah itu bermacam-macam

  1. Qurban
  2. Hadyu di waktu haji atau umrah
  3. Aqiqah

Semua itu pengorbanan-pengorbanan yang ada didalam syari’at, semuanya adalah untuk Allah سبحانه و تعالى .

 

10. Nadzar

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

 

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan [76] : 7)

 

Jadi Allah jalla jalaaluh di dalam ayat ini menyanjung orang yang menunaikan nadzar, dan yang dimaksud nadzar di sini adalah yang menunaikan nadzar dalam ketaatan dan bernadzar untuk berbuat durhaka maka tidak boleh ditunaikan.

 

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

 

“Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya.” (HR. Bukhari)

 

Jadi kita tatkala bernadzar untuk taat maka wajib untuk ditunaikan, misalnya kita bernadzar seperti ini “Saya bernadzar akan melaksanakan shaum pada hari besok, atau saya berjanji bernadzar akan melakukan sedekah begini dari harta”.

 

Selayaknya bagi kita tidak bermudah-mudahan untuk bernadzar, karena Nabi صلى الله عليه وسلم melarangnya.

 

‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

 

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Semoga kita senantiasa Allah bantu untuk selalu meluruskan niat beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala aamiin

 

 

🌸 Muslimah Ibnul Qayyim 🌸

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button