Belajar Aqidah

Resume Kajian: Kajian Aqidah Untuk Pemula (Bagian 5)

Kitab Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi رحمه الله

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 

 

 Resume Kajian

 

🔊 Ustadz Nuruddin M Fattah Al-Makky حفظه الله    

📍   : Kajian Online

📆 : Selasa, 5 Ramadhan 1441 H/ 28 April 2020 M

📕 : Kitab Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi رحمه الله

📜: Kajian Aqidah Untuk Pemula

📝: Bagian ke-5

 

📌 Landasan Pertama

Mengenal Allah subhanahu wa ta’ala

 

Hamba mengenal Rabbnya itu dengan cara Allah tabaraka wa ta’ala mengenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya

  1. Pengenalan dengan dalil aqli yaitu dengan cara merenung/mentadabburi tanda-tanda alam (ayat-ayat kauniyah/ciptaan-ciptaan Allah).
  2. Pengenalan dengan dalil naqli, berupa ayat-ayat syariat. Wahyu yang dibawa oleh para urusan Allah, berupa kitab-kitab dan termasuk Al-Qur’an.

 

🔖 Siapakah Rabb itu

Rabb adalah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengurus hamba-Nya dengan berbagai macam kenikmatan-Nya, ini menunjukkan bahwa Pengurus yang mengurus hamba-Nya dengan berbagai macam kenikmatan-Nya adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.

 

Jadi arti Rabb adalah المعبود yang diibadahi, dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

 

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)

 

Jadi di dalam ayat ini Allah memerintahkan semua manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain Allah, itulah arti Laa ilaaha illallaah.

 

Ayat ini memiliki makna yang menunjukkan konsekuensi kita untuk beribadah hanya kepada Allah, hanya satu-satunya Allah yang mesti kita ibadahi.

 

Hal ini disebabkan karena Allah adalah yang menciptakan kita, yang menciptakan bapak-bapak kita, yang menciptakan langit dan bumi, Allah adalah yang menurunkan hujan, Allah adalah yang mengeluarkan rizki, dan lain-lain.

 

Kalimat pada ayat di atas :

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu”

Kalimat ini mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah (arti Ilallaah).

 

Lalu kalimat berikut :

“Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah”

Kalimat ini mengandung peniadaan sesembahan selain Allah (arti laa ilaaha).

 

Ayat ini mengandung makna laa Ilaaha illallaah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pencipta perkara-perkara ini adalah yang berhak diibadahi. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dan dengan menyekutukan Allah (beribadah kepada Allah dan beribadah kepada selain Allah), sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus, dia telah mengadakan tandingan bagi Allah.”

 

🔖 Macam-macam ibadah kepada Allah

yaitu Islam, Iman, dan Ihsan

 

Contoh macam-macam ibadah kepada Allah adalah amalan hati seperti rasa takut, berharap, pasrah, berharap, cemas, khusyuk, takut, kembali; dan amalan dzhohir (yang dilakukan  anggota badan) seperti berdoa, meminta perlindungan, meminta pertolongan di saat sempit sekali, menyembelih, nadzar, shalat, shaum, haji, dan lain-lain.

 

Semua ibadah yang Allah perintahkan harus dengan niat hanya untuk Allah, sebagaimana tujuan jin dan manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada Allah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

 

“Semua macam ibadah yang Allah perintahkan itu hanya untuk Allah, jadi ibadah hanya semata-mata hak Allah subhanahu wa ta’ala, dalilnya

 

“Dan bahwasannya masjid-masjid itu hanya untuk Allah maka janganlah kalian berdo’a beribadah bersama Allah dengan seorang pun, sujud, dan shalat hanya untuk Allah, dan masjid-masjid itu dibangun untuk beribadah hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak boleh berdoa, tidak boleh beribadah bersama Allah dan selain Allah, janganlah kita mengarahkan permintaan kebutuhan kita kecuali hanya kepada Allah.”

 

Barangsiapa yang memalingkan di antara macam ibadah itu sedikitpun kepada selain Allah maka dia itu adalah orang musyrik, dia itu adalah kafir, karena dia menyekutukan Allah, artinya beribadah bersama Allah, menjadikan Allah tandingan di dalam beribadah, maka dia adalah orang musyrik, maka dia adalah orang kafir, dalilnya dalam surat Al-Mu’minun : 117

 

وَمَن يَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلْكَٰفِرُونَ

 

“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan bahagia.”

 

KESIMPULAN

Arti Rabb adalah المعبود  yang diibadahi, satu-satunya yang berhak diibadahi, jadi dapat kita fahami arti Rabb itu yang pertama المنعم (Al-Mun’im : yang memberi nikmat), kemudian arti Rabb lainnya itu adalah المعبود (Al-Ma’bud : yang diibadahi).

 

 

🌸 Muslimah Ibnul Qayyim 🌸

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button