Mutiara Nasehat

KISAH PEMBANTU PEMBAWA BERKAH

Sekilas Info Kedermawanan salah seorang Donatur dari Arab Saudi

بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis: Abdul Majid Muhammad Al Umary
Alih Bahasa: Zezen Zaenal Mursalin

Jika Allah menginginkan sesuatu, maka Dia yang akan menyiapkan sebabnya. Berikut ini sebuah kisah nyata tentang seorang pembantu rumah tangga (TKW) miskin yang telah Allah jadikan sebagai sebab keberkahan. Dia seorang wanita yang putus sekolah yang terpaksa mengorbankan keindahan hidup bersama dengan anak-anak dan suaminya, serta harus merasakan pahit getirnya perantauan dan keterasingan jauh dari sanak keluarga demi memenuhi kebutuhan keluarganya. untuk menyonsong masa depan pendidikan anak-anaknya yang tidak sempat ia rasakan akibat kemiskinan.

Sang pembantu itu pun menyiapkan tasnya untuk pergi ke ibu kota Jakarta, dan setelah ia mengikuti pelatihan keterampilan rumah tangga singkat, ia berangkat menggunakan pesawat terbang untuk pertama kali dalam hidupnya menuju Provinsi Al Qasim Saudi Arabia. Tepatnya di kota Buraidah untuk bekerja di sebuah keluarga besar yang kaya raya bersama beberapa TKW lain dari Indonesia yang menemaninya di perantauan. Akan tetapi berbeda dengan teman sejawatnya, TKW yang satu ini, ia sangat mudah menyatu dengan keluarga tersebut sehingga ia mencintai mereka dan mereka mencintainya. Ia merasakan seolah berada di tengah keluarganya sendiri. Bagaimana tidak, karena ia telah mendapatkan perlakuan yang baik dan majikannya pun mendapatkan pembantu tersebut sebagai seorang pribadi yang jujur, amanah, dan ikhlas. Sehingga keluarga itu pun berulangkali mengajaknya untuk melakukan umroh. Ia pun selalu ikut bersama keluarga tersebut, yang kerap kali melakukan perjalanan dari rumahnya ke Villa di kebunnya yang terletak di Buraidah dan Makkah Al Mukarromah, karena majikannya seorang syekh yang kaya raya.

Ia hidup di tengah-tengah rumah yang besar, yang dipenuhi dengan berbagai macam harta benda dan kemewahan. Hal ini berbeda dengan kondisi rumah dan keluarganya di Indonesia yang sangat sederhana dan lebih memprihatinkan, ketika di waktu musim hujan. Namun ia tak pernah berpikir untuk meminta sesuatu bagi dirinya atau keluarganya kecuali gaji bulanan yang selalu ia terima. Hal ini berbeda dengan kebanyakan para pembantu lain yang silih berganti bekerja di rumah tersebut, mereka senantiasa meminta kepada sang majikan. Sosok dermawan selalu memberikan bantuan di dalam dan di luar negeri, sampai suatu ketika sang majikan meminta kepadanya untuk menyampaikan apa yang diinginkannya. Di luar dugaan, pembantu tersebut ternyata tidak meminta sesuatu untuk keperluan pribadi atau keluarganya, dia meminta apa? dia justru meminta agar majikannya menyelesaikan pembangunan masjid yang ada di desanya. Benar, ia memiliki obsesi yang sangat tinggi, ia tidak meminta untuk dirinya atau keluarganya, akan tetapi untuk seluruh penduduk desanya, artinya permintaannya bukan permintaan duniawi akan tetapi permintaan yang sangat mulia yaitu membangun rumah di antara rumah-rumah Allah.

Permintaannya itu pun tidak sia-sia, sang majikan menyetujui untuk mewujudkan obsesinya itu secepatnya, lalu majikan pun meminta alamat desa kepada sang pembantu untuk mengutus seseorang agar melakukan survei terhadap proyek tersebut. Sang majikan pun menyampaikan hal itu kepada salah seorang syekh kepercayaannya untuk mencari informasi tentang hal itu. Maka syekh itu pun melakukan komunikasi dengan salah seorang syekh yang bekerja dan berdomisili di Jakarta. Syekh yang menjadi perantara itu pun menyampaikan maksud dan tujuannya serta meminta kepada beliau untuk memberikan informasi yang cukup akan kebenaran dan tingkat kebutuhan terhadap proyek tersebut. Sehingga syekh itu pun segera mengirimkan dua orang dai terpercaya dari Indonesia untuk melakukan survei ke sebuah daerah terpencil nan jauh di pedalaman Sukabumi, maka keduanya pun menyampaikan informasi yang cukup tentang status tanah dan anggaran yang dibutuhkan. Maka komunikasi pun terjalin yang mengabarkan bahwa proyek tersebut sangat mendesak dan kondisi penduduk desa yang sangat miskin yang tidak memiliki kemampuan harta untuk menyelesaikan proyek pembangunan masjid tersebut. Dan keduanya pun memberikan taksiran bahwa anggaran yang dibutuhkan berkisar SR 90.000 (Sembilan puluh ribu Real Saudi), atau sekitar Rp. 360.000.000 (Tiga ratus enam puluh juta Rupiah).

Syekh yang bekerja dan berdomisili di Jakarta kembali menuturkan: “Syekh perantara itu pun langsung memberikan balasan bahwa majikan pembantu itu – yang tidak pernah saya kenal dan beliau pun tidak mengenal saya- telah menyetujuinya, dan beliau siap menanggung seluruh anggaran pembangunan masjid tersebut sebagai proyek pertamanya di Indonesia. Ketika proyek itu selesai, kami pun mengirim beberapa foto dokumentasi yang meliput salat jumat pertama yang dilakukan di sana, sebagaimana kami pun telah mengirimkan kepada keluarga besar tersebut beberapa dokumentasi proses pembangunan masjid dari awal sampai akhir, dan mereka pun sangat senang dengan hal itu, Alhamdulillah.

Beberapa waktu kemudian, sebuah Universitas Negeri di Jambi membutuhkan sebuah masjid jami’ dalam kampus, karena saat itu Universitas hanya memiliki dua musala kecil yang masing-masing hanya cukup menampung tiga puluh orang jamaah saja, oleh sebab itu mereka tidak bisa melaksanakan salat jumat. Anggaran yang dibutuhkan untuk membangun masjid jami’ tersebut sebesar $ 100.000 (Seratus ribu Dollar Amerika) atau sekitar Rp1.400.000.000 (Satu milyar empat ratus juta rupiah). Maka saya pun meminta kepada majikan dermawan ini untuk membangunnya sebagai proyek keduanya di Indonesia. Lalu beliau menyetujui dan proyek itu pun selesai dengan sempurna menjadi sebuah masjid jami’ yang megah, didirikan di dalamnya salat jumat dan jemaah.

Kemudian setelah itu ada Universitas Negeri di Palu Sulawesi Tengah, juga mengajukan permohonan yang sama, dan kembali sang donatur itu menanggung seluruh proyek tersebut dengan anggaran lebih dari $100.000, dan beliau pun sangat senang seperti senangnya para penerima manfaat tatkala proyek itu selesai.
Kedua kampus tersebut sangat membutuhkan masjid, namun aturan perguruan tinggi di Indonesia tidak memperbolehkan untuk memberikan bantuan materi bagi pembanguhan masjid di dalam lingkup instansi pemerintah walau mayoritas penduduk Indonesia dari kalangan kaum muslimin, demi untuk menjaga solidaritas bagi non musim dan agar mereka tidak menuntut untuk membangun tempat-tempat ibadah mereka. Sehingga celah itu pun ditutup.

Proyek demi proyek pun silih berganti di berbagai perguruan tinggi. Universitas Maulana Malik Ibrahim di Malang Jawa Timur dan sebuah Universitas Swasta di Jakarta, mereka membutuhkan perpustakaan ilmiah, maka kembali sang donatur pun tanpa ragu memenuhi permohonan tersebut. Beliau pun memberikan bantuan perpustakaan bagi kedua universitas tersebut, meliputi buku-buku berbahasa Arab, Inggris dan Indonesia dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu agama, ilmu umum, sosial, kedokteran, komputer, teknik atau pun berbagai disiplin ilmu lainnya. Masing-masing perpustakaan tersebut bernilai $ 300.000 (Tiga ratus ribu Dollar Amerika) atau senilai Rp4.200.000.000 (Empat miliar dua ratus juta rupiah). Sehingga keduanya menjadi perpustakaan yang sangat terkenal di kawasan tersebut dan menjadi tujuan bagi para penuntut ilmu dan peneliti.
Setelah itu ada IAIN Medan ibukota Provinsi Sumatra Utara, mereka memiliki proyek pembangunan Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab. Meliputi proyek pembangunan gedung 3 lantai, di dalamnya terdapat 4 laboratorium, masing-masing bisa menampung 30 orang mahasiswa, sebuah perpustakaan, gedung adimistrasi dan sarana pendukung lainnya, proyek ini menelan anggaran $ 800.000 (Delapan ratus ribu Dollar Amerika) atau senilai Rp11.200.000.000 (sebelas miliar dua ratus juta rupiah). Proyek ini pun mendapatkan sambutan yang sangat hangat dan penuh lapang dada dari sang donatur.

Informasi tentang proyek-proyek mulia ini menjadi viral dan banyak diberitakan di kalangan akademisi dan masyarakat Indonesia, mereka pun banyak mendengar tentang kisah seorang donatur Saudi yang selalu menolak jika namanya ditulis di prasasti semua proyek yang dibantunya. Kemudian datanglah proposal dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang terletak di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan yang mengajukan proyek serupa dangan IAIN Medan, maka Kembali beliau pun menanggung seluruh proyek tersebut seperti proyek sebelumnya. Kemudian Universitas Darussalam di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, mereka membutuhkan Pusat Studi Sirah Nabawiyah, lalu beliau pun menanggung semuanya. Di Pondok pesantren lain, mereka ingin melalukan perluasan Pesantren Putri, beliau pun kembali membangunkan bangunan-bangunan baru bagi pondok pesantren tersebut dengan total anggaran hampir SR 500.000 (Lima ratus ribu Real Saudi) atau senilai Rp 2.000.000.000 (Dua miiar rupiah).

Dan pada semua proyek ini beliau menolak untuk ditulis namanya, dan hanya meminta agar ditulis “Pelaku Kebaikan.” Kecuali di dua Universitas di Medan dan Makassar, karena desakan para pimpinan di kedua universitas tersebut akhirnya beliaupun setuju untuk dibubuhkan namanya di batu prasasti dengan berat hati.
Kembali kepada sang pembantu pembawa berkah, yang menjadi pintu kebaikan bagi keluarga dan negerinya, sehingga ia menjadi salah satu sebab terciptanya proyek-proyek yang bernilai jutaan real Saudi, karena karunia Allah kemudian karena keikhlasan dan kejujurannya, berawal dari pembangunan masjid di kampungnya, sungguh ia pun telah menjadi kunci kebaikan bagi proyek-proyek kebaikan berikutnya. Sehingga Bapak Maftuh Basyuni (mantan Menteri Agama RI), beliau menyebutnya “Pembantu Pembawa Berkah”, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.”

Ada sesuatu yang unik di balik kisah di atas, bahwa dalam kurun waktu proses pembangunan seluruh proyek tersebut sampai tuntas, antara kedua orang pria ini (Syekh yang bekerja di Jakarta dan Sang Donatur), keduanya tidak pernah bertemu sebelumnya. Syekh yang bekerja di Jakarta berkata: “Suatu ketika, saya berlibur, pulang dari Jakarta menuju Buraidah untuk memberikan salam kepada bunda tercinta -rahimahallah- dan keluarga lainnya. Saat itu ada salah seorang karib kerabat kami yang sudah lanjut usia -rahimahullah- ia di opname di rumah sakit sehingga saya pergi untuk menjenguknya dan menyampaikan salam kepadanya, ketika masuk ke gedung rumah sakit, di salah satu lorong saya melihat dua orang lelaki lansia yang masing-masing menggunakan tongkat. Dan tatkala saya masuk ke dalam ruangan kerabat tersebut, tiba-tiba kedua lansia itu pun -semoga Allah menjaga keduanya- masuk ke dalam ruangan yang sama untuk menjenguk kerabat saya. Putra dari kerabat kami pun menyambutnya dan mengenalkan saya pada keduanya. Ia berkata: “ini Abu Fulan bekerja di Indonesia.” Lalu salah seorang di antara mereka melihat kepada saya dan tersenyum dan tidak berkata apa pun kecuali mengatakan: “Hayyakallah” (Semoga Allah melindungi kehidupanmu). Kemudian ia pun mengenalkan kedua lansia itu, ternyata salah seorang di antara keduanya adalah pria dermawan yang banyak memberikan kebaikan yang telah mendanai berbagai proyek dari A sampai Z. Benar, inilah dia orang baik yang pertama kali saya berjumpa dengannya, dan di mana? di sebuah amalan yang mulia yaitu menjenguk orang yang sakit.

Kedua orang itu pun berpamitan dan keluar dari ruangan. Saya pun segera menyusulnya keluar lalu menghentikan orang baik itu, sayapun mencium kepalanya (sebagai tradisi penghormatan dalam budaya arab) dan berterima kasih kepadanya atas segala kebaikan yang telah diberikannya. Tiba-tiba beliau berkata: “Karunia itu hanyalah dari Allah aza wa Jalla, kemudian sayalah yang harus berterima kasih kepada anda, anda pemilik kebaikan karena anda telah menunjukkan kepada saya berbagai pintu kebaikan dan membantu saya merealisasikannya. Maka semoga Allah menerima ibadah anda dan bagi semua saudara di Kedutaan Saudi Arabia di sana atas semua usaha dan kerjasama dalam membatu pendidikan, dan menyebarkan kebaikan serta membantu saya dalam melaksanakan proyek-proyek itu.”

disunting ulang oleh Tim Marhaban TV

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button