Belajar Fiqh

Resume Kajian: Wazhaif Ramadhan (Bagian 8)

Kitab Wazhaif Ramadhan karya Syaikh 'Abdurrahman bin Muhammad bin Qashim rahimahullah

بسم الله الرحمن الحيم

✒  Resume Kajian

🔊  :  Ustadz Nuruddin Abu Faynan Al Makky حفظه الله
📍    :  Kajian Online
📆  :  Ahad, 3 Ramadhan 1441 H/26 April 2020
📕  :  Kitab Wazhaif Ramadhan karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullah
🔰   :  Bagian ke 8 (Tadaarus Al-Qur’an di malam Ramadhan)

TADAARUS AL QURA’N DI MALAM RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan ibadah (bulan shalat, bulan berpuasa, bulan bersedekah, bulan berdzikir, dll.). Oleh karena itu merupakan kesempatan orang-orang beriman untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak ibadah, karena bulan ini adalah bulan yang amat agung.

Penulis Syaikh Ibnu Qashim rahimahullah berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada Fatimah,

ان جبرائيل كان يعارضه القرآن كل عام مرة، وأنه عارضه في عام وفاته مرتين

Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam menyimak Al-Qur’an yang dibacakan Nabi sekali pada setiap tahunnya, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril menyimaknya dua kali. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, : “Tadaarus antara Nabi dan antara Jibril di waktu malam.”

Menunjukan anjuran membaca Al-Qur’an dibulan Ramadhan di malam hari karena pada malam hari itu terputus segala kesibukan dan terkumpul kesemangatan. Bahkan dengan adanya kesesuaian antara lisan dan hati sehingga bisa mentadabburi Al-Qur’an, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْ‍‍ئًا وَّأَقْ‍‍وَمُ قِيلًا

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil : 6)

Bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dengan Al-Quran sebagaimana Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّ‍‍ل‍‍نَّ‍‍اسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّ‍‍نَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah : 185)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan sekaligus dari lauhul mahfudz ke baitul izzah di malam lailaitul qadar.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ‍‍ا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَ‍‍دْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr : 1)

Lalu, firman Allah subhanahu wa ta’ala

إِنَّ‍‍ا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّ‍‍بَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan : 3)
Nabi di permulaan datangnya wahyu dan Al-quran turun kepada nabi di bulan ramadhan, dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan bacaan saat shalat malam di bulan Ramadhan lebih panjang dari pada shalat malam di bulan lainnya

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Maka beliau membuka shalat tersebut dengan surah Al-Baqarah. Lalu aku berkata (dalam hati), ‘Beliau akan rukuk pada ayat yang keseratus, kemudian seratus ayat pun berlalu, beliau melanjutkan bacaannya.’ Lalu aku berkata, ‘Beliau akan shalat dengan surah Al-Baqarah dalam satu rakaat, kemudian ternyata beliau meneruskan bacaannya.’ Lalu aku berkata, ‘Beliau akan segera rukuk, dan ternyata beliau memulai membaca surah An-Nisa’ hingga selesai. Kemudian beliau memulai lagi dengan surah Ali ‘Imran hingga selesai. Beliau membaca dengan perlahan-lahan. Apabila beliau melewati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih. Apabila beliau melewati ayat yang berisi permintaan, beliau meminta. Dan apabila beliau melewati ayat yang berisi meminta perlindungan, beliau meminta perlindungan.

Kemudian beliau rukuk, lalu mulai mengucapkan, ‘SUBHAANA ROBBIYAL ‘AZHIIM’ (artinya: Mahasuci Rabbku Yang Maha Agung).’ Rukuk beliau sama seperti berdirinya, kemudian beliau mengucapkan, ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA LAKAL HAMDU (artinya: Semoga Allah mendengar kepada siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya milik-Mu lah segala puji).’ Kemudian beliau berdiri lamanya hampir sama dengan rukuknya. Lalu beliau sujud, kemudian mengucapkan, ‘SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA (artinya: Mahasuci Rabbku Yang Maha Tinggi).’ Maka lama sujudnya hampir sama dengan berdirinya.’” (HR. Muslim)

Pada saat musibah Corona sekarang, maka shalat terawih pun dilakukan di rumah, oleh karena itu semestinya suami menjadi imam shalat atau orang yang lebih ahli dalam membaca Al-Qur’an seperti anak yang sekolah di pesantren. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari musibah penyakit Corona ini, semoga menjadikan hubungan keluarga lebih dekat, karena memiliki waktu lebih untuk bersama-sama beribadah, saling mengingatkan satu sama lain, seperti untuk memperbanyak baca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, belajar, dll.

– Perhatikanlah kondisi makmum.

‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pada suatu malam memerintahkan kepada ‘Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhuma untuk mengimami manusia shalat malam di bulan Ramadhan, maka yang menjadi Imam membaca 200 ayat dalam satu raka’at, sampai-sampai makmum bersandar kepada tongkat karena saking lamanya berdiri, dan mereka tidak berpaling kecuali mendekati waktu fajar.

Dalam riwayat lain, saking bacaannya panjang, mereka (makmum) mengikatkan tali-tali kemudian mereka bergelantungan.

‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan tiga ahli Al-Qur’an untuk memerintahkan orang yang paling cepat bacaannya untuk menjadi Imam shalat. Yang paling cepat bacaannya sampai 30 juz, yang pertengahan bacaannya sampai 25 juz, dan yang paling lambat bacaannya sampai 20 juz.

Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang apa yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bacaan Al-Qur’an yang cepat dan yang lambat?
Beliau pun menjawab, “Dalam masalah ini memberatkan manusia, terutama di malam-malam yang pendek, adapun masalah ini tergantung kondisi manusia (makmum).”

Imam Ahmad rahimahullah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Kalau seandainya makmum adalah orang-orang yang lemah, bacalah lima ayat, enam ayat, tujuh ayat.”. Imam Ahmad rahimahullah berkata: maka aku membaca lalu aku mengkhatamkan Al-Qur’an di malam ke-27 Ramadhan.

Maka ucapan Imam Ahmad rahimahullah menunjukan bahwa dalam bacaan mesti memperhatikan kondisi makmum, jangan sampai membuat mereka berat dan begitu pula selainya dari Fuqaha (ahli fikih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diantara kalian mengimami manusia, maka hendaklah anda meringankannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya diantara kalian itu ada orang yang membuat jauh dari ikut shalat.”

Oleh karena itu, anjuran untuk memperpanjang bacaan dan tidaknya bacaan Al-Qur’an dalam shalat malam adalah memperhatikan kondisi makmum.

Bila kita mau shalat malam dengan bacaan Al-Qur’an yang panjang dan kita mengetahui makmum memiliki keinginan yang sama, maka shalatlah sepanjang mungkin, atau dengan izin para makmum untuk memanjangkan maka panjangkanlah, maka tanya dulu makmumnya mau bacaan Al-Qur’an yang panjang atau pendek, lalu ikuti keinginan makmum, tapi kita harus berusaha membiasakan dan melatih diri kita untuk shalat malam dengan bacaan Al-Qur’an yang panjang, terutama bila makmum adalah orang yang kita kenal, tetapi tetap yang diutamakan adalah jangan memberatkan makmum, agar makmum semangat beribadah.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berdiri (shalat malam) dengan mereka sampai sepertiga malam dan di suatu waktu sampai setengah malam, mereka para sahabat berkata, “Kalau kita melaksanakan sisa malam itu dengan melaksanakan shalat sunnah lagi”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai imam itu berpaling, dicatat baginya shalat semalam suntuk.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya)

Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang berdiri shalat sampai setengah malam, maka sungguh dia seperti shalat semalam suntuk.”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdiri shalat dengan 10 ayat tidak akan dicatat dari golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang berdiri shalat dengan 100 ayat, maka dicatat baginya termasuk orang yang taat. Barangsiapa yang berdiri shalat dengan 1000 ayat, maka dicatat baginya termasuk orang yang mendapatkan pahala yang sangat banyak.” (HR. Abu Daud)

Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperpanjang bacaan Al-Qur’an saat shalat malam ketika sendiri, maka panjangkanlah. Demikian pula bila berjama’ah baik dengan keluarga atau ketika di masjid, bila makmum ridha bacaan Al-Qur’annya diperpanjang maka panjangkanlah, bila tidak ridha maka jangan terlalu panjang.

Sebagian ulama salaf menamatkan Al-Qur’an di setiap shalat malam, yaitu di setiap tiga malam, adapula yang setiap tujuh hari, adapula yang setiap sepuluh hari.

Semoga materi kali membuat kita semakin semangat membaca Al-Qur’an dan memotivasi agar saling mengingatkan satu sama lain untuk banyak beribadah, memperhatikan kondisi makmum saat akan shalat malam, melatih diri memperpanjang bacaan Al-Qur’an ketika shalat malam, semoga kita termasuk orang yang banyak pahalanya, termasuk orang yang taat kepada Allah, dan bukan termasuk orang yang lalai aamiin

PERTANYAAN YANG DIAJUKAN KEPADA SYAIKH BIN BAZ RAHIMAHULLAH

– Bagaimana mengucapkan tasbih apabila melewati ayat-ayat tasbih ketika membaca Al-Qur’an ketika shalat?
Mengucapkan subhanallah wa bihamdihi, subhanallah, subhanallah wa bihamdihi

– Apakah yang bertasbih itu Imam dan Makmum?
Iya sama-sama bertasbih

– Apakah dalam shalat sunnah dan shalat wajib?
dalam shalat sunnah saja, karena tidak ada dalil ketika shalat wajib Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertasbih ketika membaca ayat tasbih, alasannya karena shalat wajib itu tempatnya meringankan kepada makmum.

– Apabila imam tidak bertasbih dan tidak ta’awwudz dan tidak meminta disaat melewati ayat tasbih, maka apa yang utama bagi makmum diam mengikuti imam ataukah bertasbih ?
Makmum diam dan tidak mengucapkan apapun.

🌸 Muslimah Ibnul Qayyim 🌸

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button