Belajar Fiqh

Resume Kajian: Wazhaif Ramadhan (Bagian 7)

Kitab Wazhaif Ramadhan karya Syaikh 'Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullah

 بسم الله الرحمن الحيم

✒  Resume Kajian

🔊  :  Ustadz Nuruddin Abu Faynan Al Makky حفظه الله
📍    :  Kajian Online
📆  :  Ahad, 25 Sya’ban 1441 H/19 April 2020
📕 : Kitab Wazhaif Ramadhan karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullah
🔰  :  Kitab Wazhaif Ramadhan bagian ke-7

KEDERMAWANAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM BERLIPAT-LIPAT DI BULAN RAMADHAN

– Mengapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan di bulan Ramadhan?
Karena manfaat di bulan Ramadhan lebih besar yaitu,

  1. Kemuliaan Waktu. Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.
  2. Dalam rangka membantu orang-orang yang berpuasa maka kita mendapatkan pahala semisal orang yang berpuasa yang diberi sedekah makan oleh kita.
  3. Di bulan Ramadhan Allah Maha Dermawan dengan rahmat dan ampunan, terutama di malam Lailatul Qadar. Allah akan memberikan anugerah yang besar kepada orang yang dermawan dan menyayangi orang lain di bulan Ramadhan.
  4. Menggabungkan ibadah puasa dan sedekah di bulan Ramadhan akan memastikan kita masuk ke Surga dan akan lebih membuat dosa-dosa diampuni dan menjaga dari neraka Jahannam, terutama ketika ditambah dengan shalat malam.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

الصيام جنة من النار كجنة أحدكم من القتال

Puasa adalah perisai dari neraka, seperti perisai salah seorang diantara kamu dari peperangan”. (HR Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah)

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ

Sedekah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air bisa memadamkan api.” (Shahih At-Targhib)

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

– Mementingkan orang lain daripada diri sendiri

Ada waktu-waktu tertentu salafush shaleh (orang-orang shaleh terdahulu) mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri, padahal dirinya pun tidak memiliki atau kekurangan dalam hal harta, memberi makan, dll.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang para salafush shaleh :

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS. Al-Hasyr : 9)

Mementingkan orang lain daripada diri sendiri bukanlah kewajiban, yang merupakan kewajiban adalah mementingkan keluarga yang menjadi tanggungan kita.

Kadang Salafush shaleh diri mereka sendiri sedang kekurangan makanan tetapi ketika ada tamu mereka memuliakan tamu atau ketika ada yang meminta-minta mereka memberikan makanan yang ada.
Maka selayaknya kita pun berupaya untuk bersedekah semampu kita baik kecil maupun besar harus ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.

– Pesan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, “Berpuasalah pada hari yang sangat panas, untuk menghadapi hari kebangkitan, dan shalatlah dua rakaat di kegelapan malam, untuk menghadapi gelapnya kubur, dan bersedekahlah dengan sedekah secara sembunyi untuk menghadapi hari yang sulit.

– Bersedekahlah secara sembunyi-sembunyi

Zaman sekarang apa-apa diphoto lalu diupload, tapi kita janganlah seperti itu ketika bersedekah kita tidak boleh riya’ tapi harus ikhlas karena Allah, bukankah kita pernah mendengar hadits nabi, “Apa yang disedekahkan tangan kanannya maka tangan kiri tidak mengetahuinya” maka bersedekahlah dengan ikhlas.

Kadangkala orang yang diberi sedekah menjadi malu saat pemberian sedekahnya diphoto, maka usahakan jangan sampai menyakiti yang diberi sedekah.

Mengapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan di bulan Ramadhan?
Karena manfaat di bulan Ramadhan lebih besar yaitu:

  1. Dermawan akan menggenapkan kekurangan kita saat berpuasa, karena ketika berpuasa seharusnya kita menjaga diri dari berbagai kemaksiatan dan hal sia-sia, tapi kita malah terjerumus melakukakan dosa dan hal hal yang sia-sia, maka banyak sedekah bisa menutupi kekurangan dalam ibadah shaum kita, oleh karena itu Allah mensyariatkan zakat fitrah.
  2. Orang kaya tidak melupakan orang yang kelaparan.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya lapar sampai masuk ke lambungnya, sedang dia mengetahuinya.” (HR. Thabrani)

Bersedekah di bulan Ramadhan adalah dalam rangka menguatkan mereka yang kekurangan, membantu mereka yang kelaparan dari makanan dan minuman dan sebagai bentuk syukur karena telah Allah beri kecukupan dan juga kelebihan harta serta kenikmatan tidak pernah merasakan kelaparan.

Sebagian orang yang ‘arif (bijaksana) pernah ditanya, “Kenapa disyariatkan puasa?”, lalu dia menjawab, “Agar orang kaya merasakan pahitnya rasa lapar, sehingga orang kaya tidak melupakan orang-orang yang kelaparan.”

Bila ingin hati kita lembut maka dekatlah dengan orang-orang miskin, bila hanya bergaul dengan orang yang memiliki segala kecukupan maka hati akan keras karena tidak terbiasa peka untuk membantu orang-orang yang perlu dibantu.

Bila sering melihat orang yang di bawah kita secara harta/kekurangan maka kita akan banyak bersyukur, justru sebaliknya bila sering melihat orang yang di atas kita secara harta maka kita akan merasa banyak kekurangan, padahal kita serba berkecukupan.

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban)

– Beberapa salafush shaleh yang mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri

Para salafush shaleh dahulu terbiasa menolong orang yang lemah.

  1. Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memiliki kebiasaan tidak pernah berbuka puasa kecuali dengan orang-orang miskin. Apabila keluarganya menghalanginya untuk bersedekah karena keluarganya pun kekurangan, maka dia bersedekah dengan makanan bagian miliknya.
    Suatu malam ‘Ibnu Umar tidak mau makan sehingga datang orang yang meminta-minta sehingga dia memberikan makanan bagian miliknya, sehingga dia pun tidak makan sedikitpun lalu pagi harinya dilanjutkan puasa.
  2. Imam Ahmad rahimahullah. Pernah suatu hari ada yang meminta-minta datang kepada Imam Ahmad rahimahullah, lalu Imam Ahmad memberikan dua buah roti kering yang telah ia persiapkan untuk ia berbuka, padahal tidak ada makanan lagi, ia pun menahan lapar, dan melanjutkan puasa di pagi harinya.
  3. Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma (cucu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) memberikan makanan kepada saudara-saudaranya, padahal dia pun sama sedang berpuasa, bahkan dia mengipasi saudara-saudaranya yang sedang makan.

Itulah para salafush shaleh, yang beribadah dalam rangka mengharapkan pahala dari Allah, ikhlas karena Allah, tidak beribadah untuk riya’ ataupun sum’ah.

Begitulah akhlak para salafush shaleh, maka kita pun harus berusaha mengikuti mereka, mencari kebaikan dengan bersedekah.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Yang paling dicintai bagi seseorang itu adalah menambah kedermawanan di bulan Ramadhan karena dalam rangka mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan karena kebutuhan manusia memberikan maslahat kepada mereka, dan karena kebanyakan manusia itu sibuk berpuasa dan shalat daripada bekerja.”

– Sedekah itu tidak hanya dengan harta

Sedekah itu tidak hanya dengan harta, tapi juga perhatian dengan Al-Qur’an, berdzikir (membaca Alhamdulillah, Subhanallah, Allahu Akbar, Astaghfirullahal’adzim, dll), dll.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim)

TANYA JAWAB JAMA’AH DENGAN USTADZ

J : Ustadz saya ingin bertanya terkait hutang puasa istri tahun kemarin, hutangnya sebanyak 3 hari lagi yang belum diqadha, tadinya ada rencana untuk qadha di bulan Sya’ban ini, qadarullah pagi hari ini istri saya haid, apakah tetap harus qadha puasa setelah bulan Ramadhan atau boleh membayar fidyah?
J : Tetap Mengqadha puasa setelah bulan Ramadhan ini, itu pun didahulukan qadhanya dibandingkan qadha puasa di tahun ini bila batal puasa di tahun ini karena haid atau sebab lainnya, dan harus bertaubat kepada Allah karena telah menunda-nunda atau tidak bersegera membayar hutang puasa.

Semoga Allah menjadikan kita ahli sedekah, orang yang lebih dermawan, ahli ibadah, terbiasa berdzikir (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir), shalat dhuha, dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan ini aamiin

🌸 Muslimah Ibnul Qayyim 🌸

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button