Belajar Fiqh

Resume Kajian: Wazhaif Ramadhan (Bagian 4)

بسم الله الرحمن الحيم

✒  Resume Kajian

🔊  :  Ustadz Nuruddin Abu Faynan Al Makky حفظه الله
📍    :  Kajian Online
📆  : Ahad, 18 Sya’ban 1441 H/12 April 2020
📕  : Kitab Wazhaif Ramadhan karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullah
🔰  : Kitab Wazhaif Ramadhan bagian ke 4

🔖 Kita wajib menjaga anggota badan kita dari perkara yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala di bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan

Ibadah shaum adalah ibadah yang disyariatkan kepada kita dan merupakan sarana menjaga badan kita dari perkara yang diharamkan oleh Allah dan badan kita digunakan untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Selama 11 bulan kita diperbolehkan makan, minum, dan bagi yang sudah menikah maka suami/istri boleh bergaul dengan pasangannya di siang hari ataupun malam hari, hal-hal tersebut merupakan nikmat-nikmat yang diberikan Allah, tetapi di bulan Ramadhan nikmat-nikmat tersebut diharamkan oleh Allah dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari, inilah yang disebut syariat ibadah shaum karena Allah ingin mengingatkan kita atas nikmat-nikmat tersebut agar kita bersyukur dan memuji-Nya.

Ketika shaum kita tidak hanya disyariatkan meninggalkan makan, minum, dan berhubungan suami istri saja, tapi juga wajib meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah baik dari segi pendengaran, ucapan, dan anggota badan lainnya.

Nasihat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma

عن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- قال: «إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَآثِمِ، وَدَعْ أَذَى الْجَارِ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً». المصنف لابن أبي شيبة (٨٩٧٣).

“Dari Jabir bin ‘ Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari dusta dan maksiat. Tinggalkanlah menyakiti tetangga. Hendaklah engkau tenang dan tenang pada saat engkau berpuasa, dan janganlah engkau jadikan harimu saat tidak berpuasa sama dengan hari saat engkau berpuasa.” (Mushannaf Ibnu Syaibah)

Apabila pendengaran, penglihatan, dan lisan kita tidak dijaga dari yang Allah haramkan, maka kita hanya akan mendapat lapar dan dahaga saja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani)

🔖 Kegembiraan di saat berbuka
Ibnu Qasim rahimahullah berkata, “Adapun kegembiraan orang yang shaum di saat berbuka, jiwa itu condong mencintai apa yang diinginkan oleh jiwanya, makan, minum, dan nikah. Apabila dilarang hal itu di salah satu waktu, kemudian diperbolehkan di waktu yang lain, gembiralah jiwa dengan diperbolehkan dari yang dilarang, terutama di saat sangat membutuhkan.”

Kegembiraan saat berbuka merupakan suatu tabiat manusia, berbuka merupakan hal yang dicintai oleh Allah dan syariat, sehingga kita disunnahkan untuk segera berbuka ketika terbenam matahari.

🔖 Saat terbenam matahari Allah mengizinkan kita untuk berbuka shaum dan Allah mencintai orang yang bersegera berbuka shaum dan mengakhirkan sahur.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

 أَحَبُّ عِبَادِي إلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

“Hamba yang paling dicintai di sisi-Ku adalah yang menyegerakan waktu berbuka puasa.” (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

 “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad)

Ibnu Qasim rahimahullah berkata, “Orang yang melaksanakan shaum meninggalkan syahwatnya karena Allah di siang hari dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan taat kepada Allah, tidaklah yang shaum itu meninggalkan syahwatnya kecuali dengan sebab perintah Allah dan tidak pula kembali melaksanakan apa yang diinginkan syahwatnya karena perintah Allah, maka orang yang melaksanakan shaum itu dalam ketaatan dalam dua kondisi.”

Maka apabila orang yang shaum bersegera berbuka dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ; makan, minum dan memuji Allah maka diharapkan orang yang shaum itu mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.

🔖 Allah ridha terhadap orang yang makan dan minum lalu memuji Allah

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

(إن الله ليرضى عن العبد يأكل الأكلة فيحمده عليها أو يشرب الشربة فيحمده عليها ( رواه مسلم

“Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya.” (HR. Muslim).

🔖 Doa orang yang berbuka puasa tidak akan ditolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن للصائم عند فطره لدعوة ما ترد

“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka.” (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Sunni, dan At-Thayalisi)

🔖 Sunnah saat berbuka adalah berdoa

Doa yang dha’if (lemah) derajat haditsnya, tidak bisa diamalkan:

 اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rezeki-Mu aku berbuka, maka terimalah puasaku ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Abu Daud, dan dinilai dhaif oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud)

Doa yang shahih derajat haditsnya, bisa diamalkan:

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: « ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ الله »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.” (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud dan selainnya)

🔖 Ada dua kegembiraan di saat berbuka shaum

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

🔖 Orang yang shaum akan mendapatkan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya karena mendapatkan pahala shaum yang tersimpan, pahala tersebut sangat dibutuhkan.

Allah subhanabu wa ta’ala berfirman,

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُ‍‍سِكُ‍‍مْ مِّ‍‍نْ خَيْرٍ تَ‍‍جِدُوهُ عِ‍‍نْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَّأَعْظَمَ أَجْ‍‍رًا 

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzzammil : 20)

Shaum merupakan kemuliaan bagi orang yang melaksanakannya, baik di siang maupun di malam harinya karena selalu dalam ibadah.

🔖 Doa orang yang sedang melaksanakan shaum akan di kabulkan dan do’a yang di panjatkan saat berbuka akan dikabulkan

🔖 Orang yang shaum di siang hari adalah orang yang shaum dan orang sabar, sedangkan di malam harinya adalah orang yang makan dan bersyukur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ

Orang yang makan lagi bersyukur seperti seorang yang berpuasa lagi bersabar.” (HR. Tirmidzi dan selainnya)

BEBERAPA PERTANYAAN YANG DIAJUKAN KEPADA SYAIKH BIN BAZ RAHIMAHULLAH

1⃣ T : Kapan doa berbuka puasa dibaca, apakah ketika akan berbuka atau setelah berbuka?

J : Setelah berbuka/setelah makan dan minum ( إِذَا أَفْطَرَ ) inilah yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ الله »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau telah berbuka, beliau membaca: “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.” (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud dan selainnya)

Yang dimaksud dengan إِذَا أَفْطَرَ adalah “apabila setelah makan atau minum”. Dari sisi lughoh (bahasa), kata أَفْطَرَ menggunakan fi’l madhi yaitu bentuk kata kerja lampau. Maka diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “telah berbuka”. Berdasarkan tinjauan ini, maka diambil kesimpulan do’a dibaca setelah berbuka puasa yang menandakan bahwa orang yang berpuasa tersebut telah “membatalkan” puasanya pada waktunya (yaitu ghurubus syams/terbenamnya matahari). Oleh karena itu doa ini tidak dibaca sebelum makan atau minum saat berbuka. Sebelum makan tetap membaca basmalah.

2⃣ T : Apakah shahih hadits tentang dua wanita yang berbuka puasa dengan ghibah?

J : Untuk keshahihannya perlu dicari, karena terdapat kemunkaran, perlu dicek kembali sanadnya.

Tambahan : Meski hadits ini belum diketahui tingkat derajat haditsnya, ada hadits lain bahwa kita harus menjauhi perkara haram ketika berpuasa.

3⃣ T : Apakah makmum membaca surat Al-Fatihah bersama saat imam membaca surat Al-Fatihah atau ketika imam membaca surat lain?

J : Ketika imam membaca surat lain, dalilnya

النبي صلى الله عليه وسلم: ((لعلكم تقرءون خلف إمامكم))؟

Dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam, “Kalian tadi membaca di belakang Imam Kalian?”

قلنا: نعم، قال: (لا تفعلوا إلا بفاتحة الكتاب فإنه لا صلاة لمن لم يقرأ بها)،

Kami menjawab, ”Ya”, Beliaupun menanggapinya, “Janganlah kalian lakukan hal itu kecuali membaca Al-Fatihah karena sesungguhnya tidak sah shalat seseorang yang tidak membacanya (Al-Fatihah)” (HR. Imam Ahmad, Syaikh Bin Baz menyatakan bahwa sanadnya shahih)

Jadi membaca surat Al-Fatihah setelah imam membaca surat Al-Fatihah wahai Syaikh?

iya membaca, lalu diam.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan karunia kepada kita untuk bisa menjumpai bulan Ramadhan, sehingga bisa berlomba-lomba dalam kebaikan di siang hari dan malam hari, serta menjauhi perkara-perkara yang Allah haramkan. aamiin

🌸 Muslimah Ibnul Qayyim 🌸

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button