Belajar Aqidah

Ajal Sudah Ditentukan

Kitab: Aqidah Salaf Ashaab Al-Hadits, karya Imam As-Shabuni

Tempat: Masjid As-Sholihiin, LEC Garut
9 Februari 2020 M/15 Jumadil Akhir 1441 H

 

#Muqodimah

Telah berkata para ulama:

“Maut adalah satu pintu yang semua orang pasti memasuki pintu tersebut”

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
(Al-Ankabut:57)

Orang yang sudah mengenal sunnah, namun jarang sekali hadir di majelis ilmu bisa jadi hatinya keras, maka bila ia hadir lagi ke majelis ilmu, itu bisa membuat hatinya lembut kembali.

Diantara sebab lain agar hati kita lembut adalah memperbanyak ingat kematian

Rosulullah bersabda :

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan ya’ni (kematian).” (HR. Tirmidzi)

Hal yang memacu melakukan kebaikan adalah mengingat kematian

 

#Isi:

Imam As-Shabuni berkata :

“Ashabul hadits, Ahlusunnah wal jamaah meyakini dan menyatakan bahwa Allah sudah menentukan bagi setiap makhluk ajalnya. Setiap jiwa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah…”.

———-

Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sehingga dia ajalnya dan rezekinya terpenuhi.
(Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Lihat Shahihul Jami’ no. 2085).

———

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhghah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya …” (HR. Bukhari & Muslim).

———

Jenggotan, celana cingkrang, berjilbab lebar Itu semua hanyalah bagian dari hijrah, karena hijrah yang sesungguhnya haruslah disertai dengan menuntut ilmu, tidak akan mungkin faham mengenai agama apabila tidak duduk di majelis ilmu.

———-

Janganlah bersikap sinis/menjauh pada teman yang terjerumus pada kemaksiatan, namun berikan kepercayaan dan motivasi padanya agar dia tidak menghindar dari pengajian karena sebab sikap kita yang kurang baik terhadapnya.

———

Manusia ketika berbuat salah adalah wajar karena ia bukan malaikat, maka dekati, benahi dan jangan memutuskan saudara kita dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

———-

Mushanif rahimahullah berkata :

“apabila telah selesai ajal seseorang maka tidak ada baginya kecuali kematian”

Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya (Al-Araf : 34).

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Al-Imran:145).

Ahlussunnah menyatakan bahwa orang yang mati atau terbunuh telah selesai ajalnya sesuai apa yang telah ditentukan, Berbeda dengan mutazilah yang mendahulukan otak.

Orang mutazilah berkata: “yang bunuh diri telah memutus ajalnya. Maka jika ia tidak bunuh diri ia akan tetap hidup”.

Pemikiran tersebut adalah pemikiran bathil dan sesat karena Allah telah menentukan ajalnya dengan sebab atau tidak dengan sebab.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”(An-Nisa : 78).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa bagaimanapun kita berusaha menghindari kematian, apabila ajal sudah menjemput maka tidak bisa kita menghindar darinya.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button