Belajar Adab

Modal Penuntut Ilmu

Kemanfaatan ilmu adalah ketika kita menghormati guru/ustadz. Dan modal bagi penuntut ilmu adalah gurunya.  Maka guru harus memberikan Qudwah/Tauladan yang baik kepada muridnya. Sedangkan ilmu yang di sampaikan gurunya adalah labanya.

Dahulu muridnya Imam Ahmad banyak sekali, namun di zaman dahulu tidak ada speaker seperti di zaman sekarang, jadi yang mendengar hanya orang orang yang berada dekat imam Ahmad. Tapi muridnya semakin banyak dan tetap mengahadiri majlis Imam Ahmad, kenapa? Karena murid-muridnya hadir bisa mengambil adab yang mulia yang ada pada guru mereka Imam Ahmad rahimahullah, makanya seorang guru itu harus memberikan Qudwah/tauladan yang baik untuk murid-muridnya. Seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu tapi juga mendidik. Karena jika hanya mentransfer ilmu, di internet juga bisa. Namun yang lebih utama adalah duduk di majelis ilmu, dan itu lebih berkah.

Kita harus berhati-hati ketika mencari ilmu/membaca (mengenai ilmu agama) tanpa guru, karena sangat membahayakan. Ada kisah seseorang yang membaca sesuatu tanpa bimbingan guru, alhasil dia mencela Allah dan RasulNya di media sosialnya, akhirnya dia di hukum di negaranya dengan hukuman mati.  Ternyata yang dia baca adalah filsafat.

Kita harus berhati-hati ketika berbicara.
Kisah Syekh bin Baz rahimahullah, bercerita muridnya, dahulu ketika di majelis beliau رحمه الله ada yang bertanya tentang sesuatu, dan pertanyaannya itu mudah untuk di jawab.  Tapi Syaikh bin Baz berkata “Allahu’alam”. Qudwah /tauladan yang demikian itu membuat kita takut ketika berbicara sesuatu tanpa kita ketahui ilmunya.

Syaikh bakar bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata :

“Adapun ilmu yang disampaikan guru adalah tambahan keuntungan” .

Ketika kita mendapati guru yang akhlaknya baik itu adalah modal bagi kita penuntut ilmu, lalu keshalihan guru itu akan tumbuh rasa cinta kita kepada guru. Akan tetapi rasa cinta kita kepada guru jangan menjadikan kita gegabah/membabi buta rasa cintanya. Jangan sampai menjatuhkan Izzah seorang guru karena akhlak kita yang buruk.

Syaikh Bakar رحمه الله melanjutkan;

“Janganlah anda mengikuti guru dari suara/gerakan/irama/gayanya”

Yang mesti kita ambil dari guru adalah disiplinnya guru dalam mengajar atau ketundukannya guru terhadap ilmu.

“Maka Ketekunan/kesemangatan guru dalam mengajar tergantung pada muridnya dalam perhatian dan konsetrasi muridnya disaat guru mengajar. Oleh karena itu waspadalah engkau sebagai sarana yang memutuskan ilmu guru dengan sebab engkau malas, lesu (ngantuk), /sambil sandaran dan berpaling hatinya dari majelis ilmu tersebut.

Adab-adab ini selayaknya diperhatikan oleh kita sebagai penuntut ilmu.

Diantara hal yang harus di perhatikan penuntut ilmu;
1. Menyiapkan peralatan untuk mencatat
2. Datang sebelum ustadz
3. Rapi/bersih dan bersemangat
4. Perhatikan/fahami apa yang disampaikan guru:
5. Jangan main hp
6. Hilangkan apa-apa yang mengganggu kita di majelis ilmu.

Ada kisah dari muridnya Syaikh Utsaimin:
Bahwa dahulu Syaikh Saat sedang membahas kitab Umdatul Ahkam, ada seseorang yang bertanya dengan penuh kecongkakan (ada kebanggaan/kesombongan dalam pertanyaannya). Syaikh pun memarahinya, mencelanya di depan orang banyak. Ini adalah sikap Syaikh Utsaimin dalam rangka mendidik agar orang tersebut tidak rusak hatinya karena kesombongan.

Demikian semoga bermanfaat

✍Muslimah Ibnul Qayyim

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button