Belajar Fiqh

SHOLAT JUM’AT: Syarat & Sunnahnya

▪ Setiap yang wajib shalat berjamaah adalah wajib shalat Jum’at.

• Berdasarkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ الَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.[ Surat Al-Jum’ah 9].

Juga berdasarkan Hadits ‘Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma, bahwa keduanya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda diatas Minbarnya:

“لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن الله على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين”

”Hendaklah suatu kaum menghentikan perbuatannya meninggalkan shalat jum’at atau (kalau tidak) Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengunci hati-hati mereka lalu mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai.” [HR. Muslim 865].

▪ ( Lalu kewajiban shalat Jum’at ini) apabila menetap dalam bangunan.

• Sedangkan bagi yang tidak menetap dalam bangunan seperti orang Arab Badui yang menetap di gubuk yang mereka tempati, lalu mereka pergi, maka tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi mereka; karena nabi tidak memerintahkan orang Arab Badui yang ada disekitar kota Madinah untuk menegakkan shalat Jum’at.

Demikian pula musafir yang sedang dalam perjalanan yang di perbolehkan untuk di qasar, maka baginya tidak ada kewajiban shalat Jum’at; karena nabi shalallahu alaihi wasallam dan sahabat nabi disaat mereka bepergian tidak melakukan shalat Jum’at.
**

Diantara syarat shalat Jum’at adalah:

1| mengerjakan shalat Jum’at pada waktunya.

• karena shalat Jum’at adalah shalat fardhu, maka disyaratkan padanya masuk waktu seperti shalat-shalat fardhu lainnya, makanya tidak Shah shalat Jum’at sebelum waktunya dan tidak pula Shah setelah waktunya; karena Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang yang beriman [ Surat An-nisa 103].

✓Jumhur ulama berpendapat bahwa waktunya adalah waktu shalat Dzuhur, mulai dari tergelincir matahari sampai akhir waktu shalat Dzuhur, yaitu bayangan sesuatu itu sepertinya.

√Adapun Hanaabilah maka yang masyhur menurut pendapat mereka: bahwa waktu shalat Jum’at adalah waktu shalat Ied dari mulai meninggi matahari seukuran tombak sampai akhir waktu shalat Dzuhur. Bagi Hanaabilah memiliki dalil-dalilnya, akan tetapi dalil-dalil jumhur ulama lebih kuat, dan mempraktekan pendapat jumhur ulama lebih hati-hati.

Ibnu Qudamah berkata:

“Karena dalam hal itu (memilih pendapat jumhur ulama); adalah solusi dari perbedaan pendapat; karena semua ulama ummat mereka bersepakat bahwa setelah tergelincir adalah waktu shalat Jum’at, dan sesungguhnya perbedaan pendapat yaitu sebelum waktu tergelincir” [Al- Mughni 2/144].

√(Begitupula) karena kebanyakan perbuatan nabi shalallahu alaihi wasallam adalah shalat Jum’at setelah tergelincir matahari.

π Sebagian fuqaha memberikan keringan untuk mendahulukan adzan dan khutbah sebelum tergelincir, akan tetapi shalat Jum’atnya tidak dilakukan kecuali setelah tergelincir.

▪2| Menegakkan Shalat Jum’at di suatu kampung ( bukan di padang pasir).

• Yaitu mereka yang penduduknya menetap di suatu bangunan yang kebiasaannya dibangun dari batu, atau tanah atau kayu dan yang sepertinya.

°Adapun orang-orang yang menetap di kemah-kemah dan rumah-rumah gubuk sementara dan yang sepertinya, yang berpindah-pindah, maka bagi mereka tidak ada kewajiban Shalat Jum’at; hal tersebut karena kabilah-kabilah Arab yang ada sekitar kota Madinah, dulu nabi tidak memerintahkan mereka untuk menegakkan shalat Jum’at.

▪ 3| Mendahului shalat Jum’at dengan dua khutbah

• Berdasarkan hadist Ibnu Umar:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يخطب خطبتين، يقعد بينهما

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallama berkhuthbah dua kali khuthbah, beliau duduk antara keduanya” [HR, Bukhari 886 & Muslim 861].

▪Dari Jabir berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم، إذا خطب احمرت عيناه، وعلا صوته، واشتد غضبه، حتى كأنه منذر جيش يقول‏:‏ ‏”‏صبحكم ومساكم‏”‏ ويقول‏:‏ ‏ ‏”‏أما بعد؛ فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة‏”‏

“Nabi Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam itu apabila berkhutbah maka memerah matanya, suaranya keras, dan memuncak kemarahannya, sehingga seolah-olah beliau itu seorang komandan tentara yang menakut-nakuti,
Sabdanya:
“Pagi-pagi ini musuh akan menyerang engkau semua,” atau “sore ini musuh akan menyerang engkau semua.”

Beliau bersabda:
“Amma ba’d. Maka sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah – al-Quran – dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara – agama – ialah hal-hal yang diada-adakan sendiri dan semua kebid’ahan itu adalah sesat.” [HR, Muslim ]

Dalam lafadznya yang lain:

“كانت خطبة النبي صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة يحمد ويثني عليه ثم يقول على إثر ذلك، وقد علا صوته”

“Dulu khutbah nabi shalallahu alaihi wasallam pada hari Jum’at, memuji Allah dan menyanjungnya kemudian berkata setelah itu, dan sungguh intonasi suaranya meninggi”

Dalam riwayat lainnya:

“من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له”

“Barangsiapa yang mendapatkan hidayah Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang akan memberi hidayah kepadanya” [HR, Muslim 867].

• Hadist ini menunjukkan bahwa selayaknya bagi Khotib untuk berintonasi dalam berkhutbah, kadang dengan meninggikan suara, dan menampakkan kesemangatan secara khusus apabila apa yang dibicarakan sesuai dengan hal itu; seperti memberikan rasa takut dari siksa Allah dan murka-Nya.

Demikian pula selayaknya khutbah meliputi kalimat-kalimat ini:

“adapun setelah itu: maka sebaik-baiknya pembicaraan…dst”; karena sabdanya : “كان” memberi faidah arti yang terus menerus, karena kalimat ini memiliki arti yang agung yaitu menganjurkan untuk berpegang teguh kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan mewanti-wanti dari perkara yang di ada – adakan dan kebid’ahan dalam agama dan menjelaskan bahwa bid’ah itu sejelek-jelek perkara.

▪Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ

“Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan ringkas khutbahnya adalah tanda dia seoseorang yang faham” [HR, Muslim 868].

• lengkapnya:

عَنْ أبي وائل قال: خطبنا عَمَّارٌ، فأوجز وأبلغ فلما نزل قلنا: يا أبا اليقظان لقد أبلغت وأوجزت فلو كنت تنفست، فقال سمعت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول:
إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ, فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا”

Dari Abi Waail berkata: ‘Amar telah menyampaikan khutbah kepada kami, maka ia berkhutbah dengan singkat padat, maka tatkala ia turun, kami bertanya: Wahai Aba Yaqdhan sungguh anda berkhutbah dengan singkat padat maka kalaulah anda panjangkan sedikit khutbahnya, lalu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan ringkas khutbahnya adalah tanda dia seoseorang yang faham. Oleh Sebab itu, panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah, dan sesungguhnya penjelasan itu adalah sihir”

Maka dalam hadits ini mengnjurakan khotib untuk pendek dan ringkas dalam khutbahnya; sehingga manusia bisa memahami dan menghapalnya, dan agar otak manusia tidak bercabang- cabang dengan sebab khutbahnya yang bercabang dan panjang.

Sebagaimana dalam hadist in menganjurkan untuk memperpanjang shalat; karena shalat adalah yang dimaksud dalam Jum’at, dan karena setiap yang menerangkan hukum; berkaitan dengan shalat Jum’at.

Ada hadits yang sema’na dengan hadits ini yaitu hadits Jabir bin Samurah Radhiallahu Anhu berkata:

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

Saya pernah shalat (Jum’at) bersama Rasulullah , maka lama shalat & khutbah beliau pertengahan (tidak terlalu panjang atau terlalu pendek). [HR, Muslim 866].

Tuntunan bagi Khatib :

▪ a] Dianjurkan berkhutbah diatas mimbar.

• berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ يَدَهُ عَلَيْهِ

“Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu berkhuthbah di atas sebuah batang pohon. Maka ketika telah dibuatkan mimbar, beliau berpindah ke mimbar tersebut lalu batang pohon tersebut merintih. Beliau pun mendatanginya lalu mengusapkan tangan beliau kepadanya” [HR, Bukhari 3390].

▪Maka apabila Khatib telah naik mimbar,
b] menghadap manusia lalu mengucapkan salam kepada mereka.

• Berdasarkan hadits Ibnu Umar:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دنا من منبره يوم الجمعة سلم على من عنده من الجلوس، فإذا صعد المنبر استقبل الناس بوجهه ثم سلم

“Rasulullah shalallahu alaihi wassalam apabila mendekat ke mimbarnya pada hari Jum’at selalu mengucapkan salam kepada orang yang duduknya dekat disisinya, maka apabila naik mimbar menghadapkan wajahnya kepada manusia, lalu mengucapkan salam” [HR, Baihaqi 3/205], Isha bin ‘Abdullah Al-,Anshori menyendiri…Abu Ahmad Ibnu ‘Ady berkata: keumuman apa yang diriwayatkannya laa yutaaba ‘alaihi].

Telah meriwayatkan Ibnu Abi syaibah dari sya’bi secara Mursal, beliau berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam apabila naik mimbar pada hari Jum’at selalu menghadap manusia, lalu beliau berkata: assalamualaikum, memuji Allah dan menyanjung-Nya dan membaca surat, kemudian duduk, kemudian berdiri lalu berkhutbah, kemudian turun, dan Abu Bakar dan Umar pun selalu melakukannya” [ HR, Ibnu Abi Syaibah 1/449].

▪c] Kemudian Khatib duduk, lalu dikumandangkan adzan oleh muadzin.

• Maka untuk shalat Jum’at ada dua adzan yaitu adzan sebelum waktu shalat untuk mengingatkan manusia melaksanakan shalat Jum’at, yaitu adzan yang dengan adzan itu sahabat Utsman memerintahkan. Dan adzan kedua yaitu adzan ketika khatib duduk diatas mimbar, yaitu adzan pada masa nabi shalallahu alaihi wasallam, adalah Adzan yang ada kaitannya dengan hukum pengharaman jual beli dan wajib mendatangi shalat Jum’at bagi yang wajib melakukan shalat Jum’at.

▪d] Kemudian (setalah adzan) khatib berdiri lalu berkhutbah, kemudian khatib duduk, kemudian khutbah lagi yang kedua.

• Berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata:

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا, ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ”

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkhutbah dengan berdiri pada hari Jum’at, kemudian Beliau duduk, kemudian Beliau berdiri” [HR،Bukhari 878 & Muslim 861].

Sebagaimana mereka lakukan pada hari ini.

▪ Kemudian (setelah selesai khutbah yang kedua),
e] khatib berdiri, lalu melakukan shalat bersama mereka dua raka’at.

• berdasarkan kesepakatan ulama karena perkataan Umar Radhiyallahu Anhu:

“صَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَصلاة الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَ صلاة الاضحى رَكْعَتَانِ وَ صلاة السَّفَرِ رَكْعَتَانِ، تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ محمد صلى الله عليه وسلم”

“Sholat Jum’at dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat dan shalat Idul Adha dua rakaat. Shalat Safar dua rakaat, tamam bukan Qashar menurut lisan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam” [HR, An-nasai 1440, Ibnu Majah 1063, 1064, Ibnu Huzaimah menshahihkannya 2/340 & Ibnu Hibban 7/22].

▪g] (dan ketika shalat dua rakaat Jum’at ) menjaharkan bacaan pada dua rakaat tersebut, dalam raka’at pertama membaca “surat sabbih”, dan dalam raka’at kedua membaca “surat Al- ghaasyiah”

• berdasarkan hadits Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Anhu berkata:

“كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيْدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ”

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at” [HR. Muslim 878]

▪ Atau dengan membaca “surat Al-Jum’ah” dan “surat Al- Munaafiqun”

• berdasarkan hadits Abi Raafi’ Radhiyallahu Anhu berkata:

اِسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَلَى الْمَدِيْنَةِ وَخَرَجَ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى لَنَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ الْجُمُعَةَ، فَقَرَأَ بَعْدَ سُوْرَةِ الْجُمُعَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُوْنَ، قَالَ فَأَدْرَكْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ حِينَ اِنْصَرَفَ فَقُلْتُ لَهُ : إِنَّكَ قَرَأْتَ بِسُورَتَيْنِ كَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَقْرَأُ بِهِمَا بِالْكُوفَةِ فَقَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ”

“Suatu ketika (khalifah) Marwan meminta kepada Abu Hurairah untuk menggantikannya (sebagai pemimpin) di Madinah, sementara Marwan pergi ke Makkah. Maka pada suatu hari Abu Hurairah mengimami kami shalat Jum’at. Ia membaca surat Al Jumu’ah pada raka’at pertama, dan surat Al Munafiqun pada raka’at kedua. Setelah selesai shalat, kutemui Abu Hurairah dan kukatakan kepadanya, Kedua surat yang Anda baca tadi, pernah dibaca oleh Ali bin Abi Thalib ketika ia berada di Kufah. Abu Hurairah berkata, Saya telah mendengar Rasulullah membaca kedua surat itu pada hari Jum’at.” [HR. Muslim 877].

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu:

“أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ الْجُمُعَةِ سُوْرَةَ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِيْنَ”

” Bahwa nabi shalallahu alaihi wasallam dalam shalat Jum’at beliau membaca surat Al Jumu’ah dan surat Al Munafiqun.” [HR. Muslim 879].

Ibnu Qayyim berkata:

“Dan kadang nabi dalam shalat Jum’at membaca “surat Jum’ah” karena mengandung perintah melakukanvshalat Jum’at ini, dan wajib mendatanginya, perintah meninggalkan pekerjaan yang menjadi penghalang dari shalat Jum’at, dan perintah memperbanyak untuk mengingat Allah; agar mereka mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat..lalu nabi dalam rakaat yang kedua membaca ” surat Al- Munaafiqun”, dalam rangka mewanti-wanti ummat dari kemunafikan, dan mewanti-wanti mereka menyibukkan mereka harta dan anak dari shalat Jum’at dan dari mengingat Allah, bahwa mereka apabila melakukan hal itu pasti mereka rugi, begitupula menganjurkan mereka untuk berinfaq yang merupakan sebab terbesar kebahagiaan mereka, juga mewanti-wanti mereka dari serangan kematian…”[Zaadul Ma’ad 1/407].

Adab bagi yang datang Shalat Jum’at

▪ Lalu bagi siapa saja yang mendatangi shalat Jum’at di anjurkan untuk:

1] Mandi

• Menurut sebagian jumhur ulama mandi untuk shalat Jum’at itu dianjurkan, dan menurut sebagian ulama adalah wajib; sungguh nabi shalallahu alaihi wasallam telah memerintahkan mandi dalam beberapa hadits, diantaranya adalah sabda nabi:

“إِذَا جَاءَ أَحَدُكمْ الجُمْعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ”

“Jika datang kepada kalian hari Jum’at, maka mandilah” [HR, Bukhari 837] dari Ibnu Umar.
▪ 2] Memakai minyak wangi

• berdasarkan hadits Salman Alfarisi berkata, Nabi bersabda :

“لا يغتسل رجل يوم الجمعة ويتطهر ما استطاع من طهر, ويدهن من دهنه، أو يمس من طيب بيته، ثم يخرج فلا يفرق بين اثنين، ثم يصلي ما كتب لـه، ثم ينصت إذا تكلم الإمام ؛ إلا غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى”

”Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at, membersihkan diri semampunya, memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi kemudian keluar menuju shalat jum’at dengan tidak memisahkan antara dua orang (di tempat duduk mereka di dalam masjid), lalu shalat semampunya dan diam ketika imam (khathib) berbicara/berkhutbah kecuali diampuni (dosa) di antara jum’at itu dengan jum’at yang lainnya.” [HR, Bukhari 843].

▪3] Memakai pakaiannya yang paling bagus

•berdasarkan sabda nabi shalallahu alaihi wasallam:

“ما على أحدكم إن وجد أن يتخذ ثوبين ليوم الجمعة سوى ثوبي مهنته”

“Apakah yang menghalangi salah seorang di antara kalian yang sanggup untuk memakai dua pakaian pada hari Jum’at selain dua pakaian kerjanya?”  HR, Abu Dawud 1078, dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, HR, Ibnu Majah 1095 dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari ‘Abdullah bin salam, dikeluarkan Ibnu Majah juga di no 1096 dari hadist Aisyah. Ibnu Khuzaimah menshahihkannya 3/132, dan Ibnu Hibban 7/15 dari dua sisi].

▪ 4] Bersegera mendatangi shalat Jum’at

• berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu secara marfu’ :

منْ اغْتسلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ، ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ”

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berkurban seekor unta. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kedua maka dia seolah berkurban seekor sapi. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) ketiga maka dia seolah berkurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) keempat maka dia seolah berkurban seekor ayam. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kelima maka dia seolah berkurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut).” [HR, Bukhari 841 & Muslim 850].

▪ Dalam hadits Bukhori dan Muslim:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ، يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ

“Jika kamu berkata “diamlah” pada hari jum’at, saat khutbah sedang berlangsung, maka engkau telah melakukan hal yang sia-sia.” [HR, Bukhari 892, Muslim 851 dari hadist Abu Hurairah].

• Maka dalam hadits ini memerintahkan untuk diam saat berlangsung khutbah, sampai hadits ini melarang juga pegingkaran terhadap yang berbicara.

Maka keawajiban bagi siapa yang melihat orang yang berbicara saat berlangsung khutbah adalah berisyarat dengan isyarat yang ringan kepada yang berbicara.

▪ Ada seseorang yang masuk masjid ( langsung duduk) pada hari Jum’at dan saat itu nabi sedang khutbah Jum’at, lalu nabi bertanya:

“صَلَّيْتَ؟ قَالَ: لَا قَالَ: قُمْ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ “

“Engkau sudah sholat?” Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: “Berdirilah dan sholatlah dua rakaat.” [HR, Bukhari 889 & Muslim 875 dari hadist Jabir].

• Hadits ini anjuran yang ditekankan untuk melakukan shalat tahiyyat masjid, dan bahwa khatib memerintahkan untuk melakukan shalat tahiyyat masjid kepada siapa yang masuk masjid belum melakukan shalat tahiyyat masjid.

Demikian Semoga bermanfaat
____

✍ Alih bahasa oleh Nuruddin Abu Faynan
📚 Referensi: Syarah Manhaju As-Saalikin Syekh Dr, Sulaiman bin ‘Abdullah Al-Qushayyir, bab shalat Jum’at hal 131-138. Penerbit: Maktabah Darr Al-Minhaaj.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button