Belajar Fiqh

TUNTUNAN SHOLAT BAGI YANG MEMILIKI UDZUR SYAR’I

✍Nuruddin Abu Faynan

•Yang memiliki udzur syar’i adalah Orang sakit, Musafir dan Orang yang takut ( di saat perang ).

Sungguh Allah ta’ala telah memberikan keringan bagi mereka.

Maka Allah telah menggugurkan sebagian hukum bagi mereka.

Allah ta’ala berfirman:

لا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلا وُسْعَهَا

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya [ Surat Al-Baqarah 233 ].

Allah berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

Dia ( Allah ) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan [Surat Al-Hajj 87].

▪Bagi Orang sakit di maafkan darinya, untuk menghadiri shalat berjamaah.

• Sakit adalah udzur yang menggugurkan kewajiban untuk menghadiri shalat berjamaah.

Dalil yang menunjukkan akan hal itu adalah Hadits ‘Aisyah -semoga Allah meridhoinya- :

“أن النبي لَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأُذِّنَ فَقَالَ: مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ”

“Bahwa ketika Nabi sedang sakit yang membawa pada ajalnya, waktu shalat tiba dan dikumandangkanlah adzan. lalu beliau bersabda : “Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat bersama orang-orang”. HR, Bukhari 633 & HR, Muslim 418.

Dari Anas -semoga Allah meridhoinya- berkata:

“سقط النبي صلى الله عليه وسلم عن فرس، فجحش شقه الأيمن، فدخلنا عليه نعوده، فحضرت الصلاة فصلى بنا قاعدا…الحديث”

“Nabi shalallahu alaihi wasallam jatuh dari kuda, maka terkelupas kulit sebelah kanannya, maka kami masuk untuk menengoknya, lalu tiba waktu shalat, maka beliau shalat bersama kami dalam keadaan duduk…Al-Hadits. HR, Bukhari 772 & HR, Muslim 411.

▪Apabila Shalat dengan berdiri akan semakin bertambah sakitnya, dia shalat sambil duduk, maka jika tidak mampu, maka dia shalat sambil berbaring.

Berdasarkan Sabda Nabi kepada ‘Imran bin Hushain:

“صَلِّ قَائِمًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ”

“Sholatlah sambil berdiri, jika tidak mampu, maka shalat sambil duduk, dan jika tidak mampu, maka shalat sambil berbaring.” HR, Bukhari 1066.

•Hadits ini menjelaskan tuntunan shalat bagi Orang sakit. Shalatnya wajib berdiri, maka apabila tidak mampu berdiri, dia shalat sambil duduk, apabila tidak mampu duduk, dia shalat berbaring, dan dia berisyarat dengan kepalanya disaat ruku’ dan sujud semampunya, dan menjadikan sujud lebih rendah daripada ruku’nya.

▪Jika dia berat untuk melakukan pada waktunya di setiap shalat, maka bagi Orang sakit menjama’ antara Dzuhur dan Ashar, dan menjama antara Magrib dan Isya disalah satu waktu keduanya.

• Artinya jika dia kesusahan melakukan shalat atau wudhu pada setiap waktu shalat karena sakit, maka baginya menjama’ antara Dzuhur dan Ashar pada salah satu waktu keduanya, dan menjama’ antara Magrib dan Isya pada salah satu waktu keduanya.

Berdasarkan Hadist Hamnah binti Jahsy, bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda kepadanya:

“وان قويت على أن تؤخري الظهر وتعجلي العصر فتغتسلين، ثم تصلين الظهر والعصر جميعا، ثم تؤخرين المغرب وتعجلين العشاء، ثم تغتسلين وتجمعين بين اللاتين فافعلي”

“Apabila kamu mampu untuk mengakhirkan shalāt Dhuhur (menjadikan shalāt Dhuhur diakhir waktunya) dan mempercepat shalāt Ashar (menjadikan shalāt Ashar diawal waktunya) lalu kamu mandi, kemudian menjama’ Dzuhur dan Ashar, kemudian mengakhirkan Magrib dan mempercepat Isha, kemudian kamu mandi dan menjama’ kedua shalat tersebut maka lakukanlah” HR, Abu Dawud 287, Timidzi 128, Ibnu Majah 627. Tirmidzi berkata: Hasan shahih.

Maka Nabi shallahu’alaihi wasallam ( dalam hadits ini) menganggap darah istihadhah sebab yang membolehkan jama’, yaitu penyakit, maka dikiyaskan atas hadits ini penyakit-penyakit yang lainnya.

▪ Demikian pula Musafir boleh menjama’, dan disunnahkan untuk mengqasar shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at.

• Musafir boleh menjama’ antara Dzuhur dan Ashar, Demikian pula antara Magrib dan Isha disalah satu waktu keduanya.

Berdasarkan Hadits Mu’adz, beliau berkata:

” خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة تبوك،  فكان يصلي الظهر والعصر جميعا، والمغرب والعشاء جميعا، حتى إذا كان يوما أخر الصلاة ثم خرج فصلى الظهر والعصر جميعا ثم دخل، ثم خرج بعد ذلك فصلى المغرب والعشاء جميعا “

“Kami keluar bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pada perang Tabuk, lalu nabi menjama’ Dzuhur dan Ashar, dan menjama’ Magrib dan Isha, sehingga pada suatu hari Beliau mengakhirkan Shalat kemudian keluar lalu menjama’ Dzuhur dan Ashar kemudian masuk, kemudian setalah itu keluar lalu menjama’ Magrib dan Isha” HR, Muslim 706.

Ibnu Qudamah berkata:

^ Dan Madzhab membolehkan untuk menjama’ sholat bagi yang boleh mengqasar shalat, pada waktu sudah turun dan juga masih di perjalanan, dan boleh memilih antara mendahulukan shalat yang kedua lalu melaksanakan shalat bersama yang pertama, dan antara mengakhirkan shalat yang pertama ke shalat yang kedua ^
Al-Kaafi : 1/311.

Adapun Hukum Mengqasar shalat maka bagi musafir disunnahkan.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalatmu. [ Surat An-nisa 101].

Anas -semoga Allah meridhoinya- berkata:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ، فصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى رَجَعْ. قُلْتُ أَقَام بِمَكَّةَ قَالَ: عَشْرًا

“Kami keluar bersama Nabi shallallahu’alaihi wasallam dari Madinah ke Mekkah, Beliau shalat dua rakaat sampai nabi kembali (ke Madinah). Maka aku bertanya: berapa hari menetap di Mekkah? Jawabnya: selama sepuluh hari”.  HR. Bukhari 1031, dan Muslim 693 dan ini lafadz bagi muslim.

Dan boleh pula menjama’ dengan sebab udzur hujan yang membuat baju basah, dalam Madzhab terkenal bahwa memjama’ dengan sebab hujan itu khusus untuk Magrib dan Isha.

Ringkasnya bahwa menjama’ shalat di perbolehkan karena tiga sebab: bepergian, sakit dan hujan.

▪Bagi Musafir diperbolehkan pula untuk berbuka dibulan Ramdhan

• Demikian pula bagi Orang yang sakit apabila shaum memberatkannya,

Allah ta’ala berfirman:

ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. [ Surat Al-Baqarah 184].

▪ Dan boleh juga Shalat khauf dengan sifat shalat yang pernah dilakukan nabi shalallahu alaihi wassalam

Diantara sifat shalat khauf:

Hadist Sholeh Ibnu Khuwwat dari seseorang yang pernah sholat Khouf (sholat dalam keadaan takut atau perang) bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada hari perang Dzatir Riqo’ bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Shalat bersama nabi dalam keadaan menghadapi musuh. Lalu beliau sholat bersama kelompok yang berbaris satu rakaat, kemudian beliau tetap berdiri dan mereka menyelesaikan sholatnya masing-masing. Lalu mereka bubar dan berbaris menghadapi musuh. Lalu datang kelompok lain dan beliau sholat satu rakaat yang tersisa, kemudian beliau tetap duduk dan mereka meneruskan sendiri-sendiri, lalu beliau salam bersama mereka” HR, Bukhari 3900, & Muslim 842.

• Perawi sungguh menyamarkan orang yang shalat bersama nabi shalallahu alaihi wasallam dan dia itu adalah Sahl bin Abi Haitsamah.

Riwayat tentang shalat khauf ada beberapa sifat; Imam Ahmad berkata:

^ Yang benar dari nabi shalallahu alaihi wassalam tentang sifat shalat khauf ada lima atau enam segi, semua itu boleh bagi siapa yang melakukannya ^.

Sungguh telah merincinya sekelompok ulama, diantaranya Al-Hafidz Ibnu Jarir Ath-Thobari dalam tafsirnya, begitu pula Al-Hafidz Al-Baihaqi dalam As-sunnan.

Syekh Sa’di mencukupkan satu sifat shalat khauf yaitu sifat yang terdapat dalam hadist Sahl bin Abi Haitsamah.

Imam Ahmad berkata tentang sifat ini:

^ Sifat ini lebih dekat kepada Al-Qur’an; Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu … [ Surat An-nisa 102].”

▪Apabila kondisinya sangat bahaya, hendaklah mereka shalat dalam keadaan berjalan dan berkendaraan, menghadap kiblat dan menghadap selainnya, mereka berisyarat ketika ruku’ dan sujud

• Berdasarkan firman Allah:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالا أَوْ رُكْبَانًا

Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka salatlah sambil berjalan atau berkendaraan [ Surat Al- Baqarah 239].

Demikian pula setiap yang takut kepada dirinya adalah shalat sesuai kondisinya, dia berbuat segala yang di butuhkan untuk diperbuat yaitu lari atau selainnya.

• Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Unais berkata:

“بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى خالد بن سفيان الهذلي -وكان نحو عُرَنَة وعرفات- فقال: “اذهب فاقتله” قال: فرأيته، وحضرت صلاة العصر، فقلت: إني لأخاف أن يكون بيني وبينه ما أن أؤخر الصلاة، فانطلقت أمشي، وأنا أصلي أومئ إيماء نحوه “

” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mengutusku kepada Khalid bin Sufyan Al- Hudzali, dia berada di arah ‘Urnah dan ‘Arfah, Nabi bersabda: pergilah lalu bunuhlah dia, lalu aku melihatnya dan shalat ashar telah tiba, lalu aku berkata: Sungguh aku khawatir jika mengakhirkan shalat karena jarak antaraku dan antaranya, lalu aku pergi berjalan dan aku shalat dengan berisyarat mengarah kepadanya” HR, Abu Dawud 1249, Ibnu Hajar dalam “Fath” 2/437, Isnadnya Hasan.

▪ Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:

إذا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ “

“Jika aku perintahkan kalian atas satu perkara, maka lakukanlah sedapat mungkin”. HR Bukhari 6857, & Muslim 1337 dari hadits Abu Hurairah

__

📚Referensi:
Syarah Manhaju Assaalikin Dr Sulaiman bin Abdurrahman Al-Qushayyir hal 126 -130.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button