Belajar Aqidah

POROS TANGGUNG JAWAB ADALAH KEMAMPUAN

✍Nuruddin Abu Faynan

Allah ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu [ Surat At-Taghabun 16]

Allah berfirman:

ولله عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا

Mengerjakan haji kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. [Surat Ali Imran 97].

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“اِذَا اَمَرْتُكُمْ بِـاَمْرٍ فَـأْتُـوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَـعْتُمْ”

“Apabila aku memerintahkan sesuatu perkara kepada kalian, maka laksanakanlah perintah itu sesuai kemampuanmu. [HR. Bukhari 7288 & Muslim 1337]

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabada kepada ‘Imran bin Hushain – semoga Allah meridhoinya-

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا
فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

”Shalatlah kamu dalam keadaan berdiri, jika tidak mampu maka shalatlah dalam keadaan duduk, jika tidak mampu maka shalatlah kamu sambil berbaring” [HR Bukhari 1117].

Allah ta’ala berfirman tentang orang-orang kafir:

ۚمَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ

Mereka (orang-orang kafir) selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya [ Surat Hud 20].

✓Al-Istitha’ah ( Kemampuan ) ada dua macam yaitu :

•kemampuan sebelum perbuatan dan •kemampuan setelah perbuatan | darru ta’arudu Al-‘Aql wa annaql 1/60, minhaju As-sunnah 3/47, Majmu’ Fatawa 8/290 , 371.

1| Kemampuan yang sebelum perbuatan adalah poros tanggung jawab. Maka apabila tidak ada kemampuan sebelum perbuatan, maka tidak ada tanggung jawab, karena tidak ada kewajiban bersama kelemahan.

Contoh kemampuan sebelum perbuatan adalah kesehatan, panca Indra yang selamat dan adanya sebab yang memestikan untuk berbuat, maka inilah poros tanggung jawab.

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah [ Surat Ali Imran 97].

Mampu mengadakan perjalanan yaitu bekal dan kendaraan, juga kemampuan badan, maka tidak wajib berangkat ibadah haji kecuali yang terpenuhi kemampuan badan dan harta, maka kemampuan ini adalah poros tanggung jawab, yang diakui oleh semua kelompok ummat.

Dalam tanggung jawab ini semua manusia sama; yang taat dan yang berma’siat, semuanya adalah mampu.

Maka orang yang diperintahkan untuk melakukan shalat – umpamanya- dia sehat akal, panca Indra dan sanggup, jika dia shalat atau jika dia meninggalkan shalat, maka dia itu adalah orang mampu.

2| Macam kedua adalah kemampuan yang bersama perbuatan yang dengannya ada perbuatan, maka hal ini bukan poros tanggung jawab; bahkan Allah memberi kemampuan kepada orang yang Allah kehendaki, yaitu kemudahan dan petunjuk secara khusus, ( Kemampuan bersama perbuatan ini ) ditiadakan dari orang-orang kafir, seperti dalam firman Allah:

ۚمَا كَانُوا يَسْتَطِيعُونَ السَّمْعَ وَمَا كَانُوا يُبْصِرُونَ

Mereka (orang-orang kafir) selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya [Surat Hud 20].

وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا , الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا

Dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas, yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak mampu mendengar [ Surat Al- Kahfi 100 – 101].

bukan berarti mereka tuli tidak bisa mendengar. Maka yang tuli adalah dimaafkan apabila tidak bisa mendengar yang wajib untuk didengar, dan yang buta di maafkan apabila tidak bisa melihat yang wajib untuk dilihat; karena dia tidak mampu.

√Akan tetapi kemampuan yang ditiadakan dari mereka orang-orang kafir adalah kemampuan yang bersama perbuatan, yaitu kemampuan yang bukan poros tanggung jawab, maka mereka orang-orang kafir mampu, akan tetapi mereka berpaling dari keta’atan karena hawa nafsu dan syahwat.

Umpamanya: sebagian manusia dikatakan kepadanya: hendaklah anda meniggalkan rokok, lalu ia menjawab: saya tidak mampu! dia tidak mampu karena syahwat yang menguasainya, padahal sebenarnya dia mampu.

Atau dikatakan kepadanya: hendaklah menjaga shalat fajar berjama’ah, lalu dia menjawab: saya tidak mampu.
Apakah dia benar-benar tidak mampu? Tidak demi Allah, dia mampu kalau seandainya ada perkara untuk kemaslahatan yang dia cita-citakan, tentu dia bangkit dan nampak kemampuannya!

¶ Dalam masalah ini ada ada 2 kelompok yang keliru:

•kelompok pertama: Orang yang tidak menetapkan kecuali kemampuan yang sebelum perbuatan, mereka adalah Mu’tazilah.

Sungguh mereka telah meniadakan kemampuan macam yang kedua; karena Allah menurut mereka tidak bisa memberi petunjuk kepada seorangpun, dan tidak bisa menyesatkan seorangpun; bahkan hamba itu adalah yang menguasai dirinya sendiri.

• kelompok kedua: Ibnu Abi Al-Iz dalam syarhnya, beliau berkata: “sesungguhnya kelompok yang menisbatkan kepada Ahlusunah – dia tidak menentukan mereka- mereka berkata: kemampuan itu tidak terjadi kecuali bersama perbuatan” Syarah Aqidah Thohawiyyah Ibnu Abi Al-Iz hal 633.

Ini adalah pendapat yang keliru; karena konsekwensi pendapat mereka itu bahwa pengertian firman Allah ta’ala:

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu [ Surat At-taghabun 16]. yaitu bertakwalah kamu kepada Allah apabila kamu bertakwa, maka tidak wajib bertakwa kecuali orang yang bertakwa, tidak wajib haji kecuali yang haji, nampak kerusakan pendapat ini.

____

📚 Referensi:
Syarh Al- Aqidah At-Thahawiyyah karya Syekh ‘Abdurohman Al- Barrak hal 326-328, Penerbit; Darr Attadamuriyyah.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button