Belajar Fiqh

HIKMAH THAWAF

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memulai mengelilingi baitullah ( thawaf) dari hajar aswad, kemudian menyalaminya dan ketika thawaf air matanya berlinang.

Hal ini terkumpul antara cinta, rindu, pengagungan, khusu dan kebutuhan.

Thawaf di baitullah memiliki hikmah, diantaranya:

Kecintan dan kerinduan kepada Allah

karena mengelilingi rumah Allah

Ibnu Qoyyim -rahimahullāh- berkata tentang Kabah:

“Kalaulah tidak ada baginya kemulian kecuali penyandaran Kabah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firman-Nya:

وطهر بيتي للطائفين

Sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf

Tentu cukuplah keutamaan dan kemuliaan ka’bah dengan penyandaran ini”(Badaai’u Al-Fawaaid 2/461).

Oleh karena penyandaran inilah yang menyebabkan semua orang yang ada di alam semesta ini merindukannya dan jiwa mereka tertarik untuk melihatnya.

✅ Cinta kepada Allāh merupakan kekhususan amalan hati, karena hati diciptakan untuk mencintai Allāh, dan kecintaan kepada Allāh bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. (Lihat: Majmu’ Fataawa 10/134).

Sujudnya hati

Ketika anda mengelilingi ka’bah melihat pemandangan yang mengandung kewibawaan yang menumbuhkan kekhusuan, ketundukan, kebutuhan hati dan hancur leburnya hati

Hal itu karena anda menghadirkan keagungan Allah dan kebesaran Allah dalam hati.

Oleh karena itu seukuran menghadirkan keagungan Allah dan kebesaran Allah dalam hati tumbuh kekhusuan, ketundukan dan hancur leburnya hati.

Ditanya sebagian orang yang ‘Arif:

“Apakah hati itu bersujud?”

Ia berkata:

“Iya, bersujud yang tidak akan diangkat kepalanya sampai hari bertemu Allāh

Inilah sujudnya hati. Apabila sujud hati kepada Allāh, sujud bersamanya semua anggota badan. (Lihat: Madaariju Assaalikin 1/735).

3). Banyak berdzikir

Ketika anda mengelilingi ka’bah merasakan kedekatan dari Rabbnya yang menguatkan kecintaan, harapan dan prasangka baik anda kepada Allāh, hal ini akan mendorong untuk banyak berdzikir.

Sungguh Rasūlullāh bersabda:

“Sesungguhnya dijadikan thawaf di baitullāh dan antara shafa dan marwah, melempar jamarōt untuk menegakkan dzikrullāh”. (HR, Abu Daawud 1888, Tirmidzi 902, hasan shahih, dan ibnu khuzaimah mensahihkannya 2882,2970, Arnaut menhasankannya di jami’ Alusul 1505).

Dzikir ini meliputi:
❶ Dzikir sanjungan dan pengagungan kepada Allāh.
❷ Dzikir doa dan istighfar.

❶ Dzikir sanjungan memiliki 2 ruhani dan 1 adab.
↠ 2 ruhani dzikir sanjungan adalah:
① ketundukan.
② rasa takut.
↠ adabnya adalah tidak mengeraskan suara.

Maka seukuran dengan ketundukan dan rasa takut dalam hati yang berdzikir dan melaksanakan adabnya akan memberikan pengaruh kepadanya.

❷ Dzikir doa itu memiliki 1 ruh dan 1 adab.
↠ ruhnya adalah ketundukkan.
↠ adabnya adalah tidak mengeraskan suara.
Karena terang-terangan itu dikhawatirkan Riya. Maka seukuran dengan ketundukan dalam hati yang berdoa dan melaksanakan adabnya akan dikabulkan doanya.

✅ Tunduk dan rasa takut itu merupakan amalan hati yang selayaknya bagi anda jamaah haji dan umroh untuk menghadirkannya dan dilaksanakan oleh hatinya ketika berdzikir dan berdoa.

Demikian, semoga bermanfaat.
_____

Disarikan oleh Nuruddin Abu Faynan dari kitab:
‘Amal Al-Qulub fi Al-Hajji Wa Al-Umrah, Karya Syaikh ‘Abdullah Al-‘Anzi ( dengan perubahan ).
✏Diambil dari kajian Audio, yang ditranskrip oleh Admin Grup WhatsApp Manar At-Tauhid.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button