Belajar Fiqh

TAKBIR, ARTINYA & HIKMAHNYA

Takbir adalah perkataan anda:
Allāhu Akbar ‘الله اكبر ‘.

Allāh Tabāroka Wata’ala berfirman:
وكبره تكبيرا

Hendaklah anda bertakbir kepada Allāh dengan benar-benar bertakbir(QS, Al-Isra 111).

Takbir adalah dzikir yang selalu mengiringi jamaah haji dan umroh dalam haji dan umrohnya.

◆ Ketika mulai Thawaf ‘bertakbir’
◆ Ketika manyalami atau sejajar Hajar Aswad ‘bertakbir’
◆ Ketika menyalami rukun Yamani ‘bertakbir’
◆ Ketika berdiri diatas Shofa begitu pula diatas Marwah ‘bertakbir’
◆ Ketika bertolak dari ‘Arofah ‘bertakbir’
◆ Ketika di Mudzalifah ‘bertakbir’
◆ Ketika berjalan ke Mina ‘bertakbir’
◆ Ketika melempar Jamarōt ‘bertakbir’
◆ Ketika menyembelih Hadyu dan Qurban ‘bertakbir’
◆ Ketika hari-hari Tasyrik ‘bertakbir’
◆ Ketika selesai haji ‘bertakbir’

Arti takbir

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah -rahimahullāh- menjelaskan tentang arti takbir:

“Dalam perkataan ALLĀHU AKBAR adalah
✅ menetapkan keagungan Allāh.
Maka sesungguhnya kebesaran itu terkandung keagungan. Akan tetapi kebesaran itu lebih sempurna.

Oleh karena itu datang lafadz-lafadz yang disyariatkan didalam sholat dan adzan dengan perkataan ‘Allāhu Akbar’.
Maka sesuggunya hal itu lebih sempurna dari perkataan Allāhu A’dhom.” (Majmu’ Fataawa 10/253).

Hikmah takbir

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah -rahimahullāh- berkata:

“..Takbir itu disyariatkan di tempat-tempat besar seperti:
✅ banyaknya perkumpulan
✅ atau keagungan perbuatan
✅ atau kuatnya kondisi untuk bertakbir
atau selain itu dari urusan-urusan besar untuk menjelaskan bahwasanya ALLĀH MAHA BESAR.
Dan kebesaran Allāh menguasai hati di atas kebesaran semua urusan-urusan yang besar,
maka agama seluruhnya milik Allāh.”

Saudaraku

Mengagungkan Allah dan memuliakan Allah adalah salah satu tujuan haji dan umroh.

Oleh karena itu, tidak luput satu syiar diantara syiar-syiar haji dan umroh dari mengucapkan TAKBIR.

Ibnu Qayyim -rahimahullah- berkata:

Pengagungan kepada Allāh itu mengikuti pengenalan kepada Allāh.
Maka seukuran pengenalan kepada Allāh seukuran itu pula pengagungan kepada Allāh dalam hati.
Dan manusia yang paling mengenal kepada Allāh adalah yang paling banyak mengagungkan Allāh dan memuliakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla
(lihat: Madaariju Assaalikin 3/379-380).

Demikian, semoga bermanfaat.
___

Disarikan oleh Nuruddin Abu Faynan dari kitab:
‘Amal Al-Qulub fi Al-Hajji Wa Al-Umrah, Karya Syaikh ‘Abdullah Al-‘Anzi ( dengan perubahan ).
✏Diambil dari kajian Audio, yang ditranskrip oleh Admin Grup WhatsApp Manar At-Tauhid.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button